Senin, 28 September 2020 | 16:20:09 WIB

bully.id, Aplikasi Pengubah Kehidupan Yang Menyelamatkan Kehidupan Remaja

Sabtu, 9 November 2019 | 22:49 WIB
bully.id, Aplikasi Pengubah Kehidupan Yang Menyelamatkan Kehidupan Remaja

Agita Pasaribu. (FOTO : BULLY.ID/LINDO)

JAKARTA, LINDO - "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Kalimat di atas merupakan kutipan yang dikatakan oleh Ir. Soekarno, bapak pendiri dan juga presiden pertama Indonesia, dalam pidatonya beberapa dekade lalu. Itu menunjukkan betapa pentingnya generasi muda bagi kehidupan suatu negara, bahkan bagi kehidupan dunia ini. 

Hal tersebut diamini oleh Ban Ki Moon, mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pernah menyatakan, bahwa kaum muda adalah orang-orang yang memiliki semangat, energi, dan komitmen untuk membuat perubahan.

Namun, tidaklah mudah untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pemuda. Masa muda adalah periode kritis dalam siklus perkembangan seseorang karena perubahan biologis, psikologis dan sosial terjadi selama masa ini (Susanti dkk., 2018). Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh JAMA Pediatrics menunjukkan bahwa 80% remaja yang melakukan bunuh diri memiliki pikiran depresi akibat perundungan (bullying). Pada era yang memungkinkan hampir segala hal untuk dilakukan dengan bantuan internet, beberapa justru menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain yang kemudian dikenal sebagai tindakan perundungan siber (cyberbullying). 

Tindakan yang tidak menyenangkan ini mengalahkan intimidasi konvensional dalam menyebabkan anak muda berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Di Indonesia sendiri, jumlah pengguna internet mencapai 171,17 juta, dengan usia mayoritas pengguna berkisar antara 15-19 tahun dan 49% dari mereka adalah korban cyberbullying (APJII, 2019). Ini menjadikan cyberbullying sebagai penyebab kejahatan nomor 4 terhadap anak-anak setelah pelanggaran hukum, perlakuan kasar orang tua, dan kejahatan dunia maya di negara kita (KPAI, 2018). 

Mengapa cyberbullying terus berkembang adalah karena tidak ada definisi dan regulasi yang jelas mengenai hal tersebut di Indonesia. Kurangnya pengetahuan dan pendidikan soal cyberbullying berikut jenis-jenisnya (pembuatan profil palsu, pornografi balas dendam, dsb.), ketidakmampuan untuk melapor pada pihak berwajib atau melakukan konsultasi psikologis, serta mahalnya biaya untuk mendapat pendampingan hukum dari pengacara dan konseling dari psikolog juga menjadi alasan dari berkembangnya cyberbullying di negara ini.

Melihat fenomena menyedihkan yang tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia ini, Agita Pasaribu, seorang pemuda Indonesia dengan latar belakang pendidikan hukum dan hubungan internasional yang juga memiliki kepedulian tinggi terhadap teknologi, dunia siber, dan pemberdayaan pemuda memutuskan bahwa internet harus digunakan untuk kebaikan alih-alih mengejek satu sama lain dan mengarahkan pada depresi. 

"Atas dasar itu, bully.id didirikan. bully.id merupakan sebuah aplikasi mobile yang bertujuan untuk mendidik, menyelamatkan, dan meningkatkan kehidupan korban bullying dan cyberbullying melalui konseling hukum dan psikologis dengan menerapkan teknologi Artificial Intelligence (AI), Blockchain, dan Gamification," kata Agita Pasaribu.

Menurutnya, dengan bantuan AI, bully.id akan dapat mengidentifikasi dan menganalisa kondisi serta persoalan yang dihadapi pengguna melalui integrasi dengan akun Media Sosial (Medsos) pengguna dan pertanyaan penilaian diri yang ditujukan untuk pengguna. 

Dari analisa tersebut kata Agita, AI dari bully.id akan menghasilkan parameter kondisi mental dan regulasi hukum singkat. Parameter inilah yang nantinya akan memberikan saran, apakah pengguna sebaiknya melakukan pelayanan emosional pribadi dan/atau pendampingan hukum dengan psikolog dan/atau pengacara sesuai jenis konseling yang disarankan oleh AI.

"Bukan hanya bagi mereka yang menjadi korban bullying/cyberbullying, namun bully.id juga ditujukan bagi mereka yang ingin ikut serta dalam menciptakan komunitas daring yang lebih baik, yakni dengan menjadi Whistleblower. Fitur "Be a Whistleblower" di aplikasi bully.id tersedia untuk siapa saja yang melihat dan menyaksikan peristiwa bullying maupun cyberbullying, serta ingin melaporkan peristiwa tersebut," jelas Agita.

Ia menambahkan, bukti pelaporan nantinya akan diverifikasi oleh sistem Blockchain dari bully.id. Untuk setiap bukti yang terverifikasi, Whistleblower akan mendapatkan reward berupa poin dari mitra usaha bully.id.

Tujuan berikutnya dari aplikasi ini adalah untuk menciptakan komunitas ketika jumlah pengguna tertentu telah tercapai. Acara offline seperti seminar, lokakarya, atau konferensi akan diadakan secara rutin oleh bully.id bersama dengan komunitas ini. 

Acara-acara tersebut dapat diadakan di sekolah, universitas, atau bahkan perusahaan yang melibatkan kaum muda sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) utamanya. Pendidikan mengenai cyberbullying dan tindakan yang harus diambil untuk mencegah dan menyelesaikannya akan diajarkan kepada masyarakat luas melalui acara ini.

“Tidak semua bentuk penindasan meninggalkan luka fisik. Sampai masyarakat kita mengakui cyberbullying, penderitaan ribuan korban yang membisu akan terus berlanjut,” ujarnya. 

Oleh karena itu, dengan dibuatnya aplikasi ini, Agita ingin membawa perubahan melalui kepedulian dan kebaikan yang dia yakini bersemayam di hati masing-masing dari kita untuk membantu orang yang membutuhkan. (ARMAN R)

Berita Terkait