Jumat, 06 Desember 2019 | 15:19:56 WIB

Dua Puluh Lima Siswa Mancanegara Dari 13 Negara Lakukan Kuliah Kerja Lapangan

Jum'at, 15 November 2019 | 22:06 WIB
Dua Puluh Lima Siswa Mancanegara Dari 13 Negara Lakukan Kuliah Kerja Lapangan

(FOTO : HUMASKEMHAN/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sejak sehari sebelum keberangkatan menuju daerah sasaran, yakni Yogyakarta dan Solo, terlihat semua siswa sangat antusias dan bergegas dalam menyiapkan perlengkapan pribadinya, seperti kamera, pelindung panas, kacamata hitam, jaket dan perlengkapan lainnya.

Hal ini dilakukan para Siswa dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL) siswa mancanegara Pusdiklat Bahasa Badiklat Kementerian Pertahanan (Kemhan), yang berkantor di Jalan Jati Nomor 1, Pondok Labu, Pangkalan Jati, Jakarta Selatan, Kamis (14/11).

Program kuliah kerja lapangan ini sesuai dengan Rencana Program Tahunan (RPT) Tahun Ajaran (TA) 2019 yang dilakukan secara rutin bagi siswa mancanegara, yang mendapatkan tugas belajar Bahasa Indonesia sebagai bekal selanjutnya untuk mengikuti pendidikan Sesko Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sesko Angkatan (Darat, Laut dan Udara) serta mempersiapkan calon mahasiswa yang akan belajar di Universitas Pertahanan (Unhan). Ketiga belas negara tersebut,yaitu : Amerika Serikat (satu siswa), Arab Saudi (dua siswa), Australia (dua siswa), China (satu siswa), India (empat siswa), Myanmar (satu siswa), Malaysia (dua siswa), Philipina (dua siswa), Pakistan (dua suswa), Singapura (empat siswa), Srilangka (satu siswa), Thailand (dua siswa), dan Vietnam (satu siswa), sehingga seluruhnya berjumlah dua puluh lima siswa.

Kegiatan ini  dipimpin langsung oleh Kapusdiklat Bahasa Badiklat Kemhan Brigjen TNI Yudhy Chandra Jaya, MA. beserta staf, antara lain Kolonel Caj. Drs. Hasanuddin Salsab, M.Ed., Kolonel Laut Dr. Bambang Nurrochim, M.M., M.A.P., Mayor Laut Sumidi, S.Pd., dan Mayor Caj Awani.

Program KKL ini direncanakan berlangsung selama 4 hari,yaitu 11-14 November 2019 dengan agenda kegiatan mengunjungi dan menyaksikan sendra tari Rayana, dilanjutkan ke Candi Borobudur, kerajinan perak di Solo, ke Walikota Solo, Museum Purba Sangiran, Candi Cetho, Candi Sukuh, Istana Mangkunegaran, dan diakhiri dengan mengunjungi P.T. Sritex.

Kapusdiklat Bahasa Badiklat Kemhan Brigjen TNI Yudhy Chandra Jaya mengatakan, program KLL ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman siswa selain praktek berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, mereka diperkenalkan budaya Indonesia dan kuliner, sehingga lebih lengkap di dalam proses belajar tentang Indonesia.

“Yang pasti sebagai bekal di dalam melanjutkan pendidikan di Indonesia, sekaligus sebagai wujud kerja sama negara-negara sahabat di bidang pertahanan yang telah terjalin sejak lama. Melalui mempelajari bahasa Indonesia, maka terbukalah pintu dunia di dalam melihat, mempelajari dan mengenal lebih dekat tentang negara Indonesia," jelas Brigjen TNI Yudhy Chandra Jaya.

Disamping itu juga lanjutnya, untuk menjalin dan meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan negara-negara sahabat, khususnya kerja sama Angkatan Bersenjata, setiap tahun Kemhan dan TNI mengundang beberapa perwira angkatan bersenjata negara sahabat untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI, dan Sesko Matra di masing-masing angkatan.

“Jadi dengan semangat "Bela Negara" melalui belajar Bahasa Indonesia yang bernilai strategis, akan mampu menembus batas antar negara dengan meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan,” ujarnya.

Pada akhir kegiatan, para siswa diberikan kesempatan berkunjung ke PT Sritex untuk mengetahui lebih dekat tentang industri Strategis Tekstil Indonesia PT Sritex yang telah menembus pasar dunia di dalam bidang tekstil yang digunakan sebagai seragam militer berbagai negara dan mengunjungi Istana Lodji Gandrung Surakarta yang diterima oleh Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, yang dihadiri juga Ketua DPRD Solo, dan staf Walikota Solo.

Saat mengunjungi Istana Lodji Gandrung Surakarta, Walikota Solo dalam sambutannya mengatakan, dengan berkunjung ke Kota Solo sebagai kota budaya sangat tepat. Hal ini tidak terlalu berlebihan, karena di kota sebagai pusat budaya Jawa dengan kebanggaannya produk batik dan kuliner yang sangat lezat hingga menembus dunia.

“Semoga dengan mempelajari Bahasa Indonesia, sekaligus budaya dan berbagai kuliner khas Indonesia ini akan mampu membuka pintu dunia dalam meningkatkan hubungan multilateral khususnya di bidang pendidikan dan pertahanan,” kata F.X. Hadi Rudyatmo. (ARMAN R)

Berita Terkait