Rabu, 12 Agustus 2020 | 16:39:42 WIB

Tanah Warisan Diserobot, Ahli Waris Siap Duduki Lahan

Senin, 30 Desember 2019 | 17:39 WIB
Tanah Warisan Diserobot, Ahli Waris Siap Duduki Lahan

Lokasi lahan yang diributkan oleh Eldita Cs dengan Ahli Waris Abd Rahman Hongi di depan pasar Kao, Desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halut, Minggu (29/12/2019). (Foto: ALDY/LINDO)

HALUT, LINDO - Kasus tanah yang disidangkan di pengadilan negeri Tobelo milik (alm) Abd Rahman Hongi yang ada di Desa Kao, kecamatan Kao, kabupaten Halmahera Utara, baru-baru ini menuai kontrofersi.

Menurut salah satu ahli waris Adjam Hongi, sebenarnya tanah milik orang tuanya yang ada di depan pasar Kao itu dijual dengan harga 250ribu, dengan diameter persegi 15x30. Namun dalam perjalanan waktu, tanah tersebut sudah disulap menjadi 40x60 meter persegi oleh pembeli kedua atas nama Eldita warga asal Sumatera yang berdomisili di desa Kao.

"Yang saya ingat dan yang saya ikut membubuhkan tanda tangan dalam akta jual beli pada tahun 1986 itu adalah 15x30=450 meter persegi dengan harga Rp.250 ribu. Itupun saya dan ayah saya yang menerima dana itu. Tidak ada penjual lain dalam akta jual beli itu," kata Adjam saat dikonfirmasi media ini di kediamannya di desa Kao, Minggu (29/12/2019).

Lebih lanjut, Adjam menegaskan tanah milik orang tuanya yang berada di samping jalan raya Kao, tidak ada sangkut paut dengan nama-nama yang disebut dalam amar putusan pengadilan Tobelo dengan nomor 82/Pdt.G/2018/PN Tob. Ia mengakui tanah seluas 16000 meter persegi itu dulunya adalah tanah peninggalan penjajahan kolonial belanda, lalu tanah tersebut di swakelola oleh orang tuanya dengan menanam ratusan pohon kelapa dan sejumlah tanaman lainnya yang sampe sekarang masih menyisahkan beberapa tanaman seperti pohon kelapa dan pohon pisang.

"Saya sendiri masih sempat ikut menikmati buah kelapa milik orang tua saya. Bahkan ada beberapa pohon kelapa yang masih berdiri kokoh di lahan tersebut. Sejak ayah saya masih ada, tidak ada satu orang dari luar keluarga kami yang berkebun dilahan orang tua saya lalu mengklaim itu tanah miliknya. Tapi sekarang tanah ayah saya sudah berpindah surat dan mengklaim bahwa tanah seluas itu milik orang-orang yang berperkarah dipengadilan itu. 'Dong Paling Pang Foya' mereka pembohong," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Adjam mengungkapkan sejak kasus ini diputusan, ia dan beberapa ahli waris lainnya masih bingung dan merasa heran tanah orang tuanya yang memenangkan kasus itu. Padahal, tanah itu sudah jelas-jelas menerangkan bahwa tanah milik (alm) Abd Rahman Hongi. Namun dalam sidang perdata di pengadilan Tobelo, Halut, kasus itu telah dimenangkan oleh Eldita Cs.

"Kalau saya cermati dalam amar putusan pengadilan Tobelo, sangat jelas bahwa sengketa tanah seluas 15x30 meter persegi itu tidak dibicarakan dalam persidangan, namun yang ada hanya jual beli 40x75 meter persegi dengan harga Rp.250 ribu. Antara (alm) Abdullah Bustam dengan (alm) Man Hongi yang diperjual belikan pada tanggal 3 Mei 1986 yang ditandatangani oleh pihak pertama Man Hongi, pihak ke kedua Abdullah Bustam dan diketahui kepala desa Kao (alm) A Sidik, serta disaksikan oleh ketua dusun dua desa Kao, Muan Nasar. Jadi saya nilai surat jual beli tanah milik orang tua saya sudah direkayasa oleh saudari Eldita," tuturnya.

Hingga berita ini dilansir, sejumlah ahli waris alm Abd Rahman Hongi masih bersikeras bahwa tanah yang diperebutkan di depan pasar kao tersebut masih tarik menarik antara ahli waris dengan Eldita.

Adjam berpendapat walaupun kasus tersebut telah dimenangkan oleh Eldita Cs di pengalian Tobelo, namun secera sah dirinya sangat optimis akan mengambil kembali sisah tanah yang diserobot oleh Eldita Cs.

"Sebelum meninggal ayah saya berpesan pada kami segera kembalikan sisah tanah yang dirampas oleh Eldita Cs. Biar kalah di pengadilan, kalian harus berupaya sekuat tenaga dan pikiran segera kembalikan sisah tanah itu. Mereka sudah merampas hak-hak kami segera rebut kambali," tutur almarhum seperti ditirukan oleh Adjam.

ALDY 

Berita Terkait