Sabtu, 28 November 2020 | 06:11:08 WIB

PIKI Gelar Talk Show Seni Budaya Bahas Intoleransi

Kamis, 30 Januari 2020 | 14:33 WIB
PIKI Gelar Talk Show Seni Budaya Bahas Intoleransi

(FOTO : PIKI/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Presidium Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) Wawan Gunawan mengajak seluruh elemen masyarakat dari lintas agama untuk dapat menangkal radikalisme di Jawa Barat (Jabar).

Hal demikian disampaikan Wawan Gunawan, saat Talk Show Seni Budaya yang diselenggarakan Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), di Wisma Sejahtera Dago Bandung, Jabar (28/1/ 20).

Wawan mengakui, Jabar menjadi daerah yang paling banyak kasus intoleransi. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor, diantaranya mainstreaming paham keagamaan yang tidak toleran, faktor historis, budaya keterbukaan, gerakan Islam kampus serta politik identitas.

Berdasarkan data, kasus Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dalam 10 tahun terakhir di Jabar, meliputi pelarangan penutupan tempat ibadah, perizinan tempat ibadah dan fasilitas aktivitas keagamaan, penyesatan keyakinan keagamaan, peraturan perundang-undangan dan kebijakan daerah yang diskriminatif serta ujaran kebencian.

Sementara itu, Dekan Fisipol Universitas Kristen (UKI) Jakarta, Angel Damayanti mengatakan, intoleransi muncul dari pembedaan-pembedaan fisik dan identitas kelompok, yang akhirnya melahirkan radikalisme, sedangkan radikalisme yang lebih ekstrim melahirkan kekerasan.

Dosen Fisipol UKI lulusan National University of Singapore itu menilai, pentingnya edukasi kepada masyarakat hingga ke lapisan paling bawah agar tidak mudah terpapar dengan radikalisme.

Oleh sebab itu, Peran PIKI sebagai cendikiawan Kristen di sini, yaitu melakukan edukasi, pemberdayaan warga gereja, advokasi, koordinasi & komunikasi, serta melakukan rekomendasi kebijakan.

Menurutnya, Jabar sebagai daerah yang tercatat memiliki kasus intoleransi tertinggi di Indonesia, harus dapat berbenah diri, bukan hanya masyarakatnya, tetapi juga para petinggi yang duduk di kursi pemerintahan daerah, agar bisa secara bersama-sama mengurangi predikat daerah intoleransi  tertinggi di Indonesia. (ARMAN R)

Berita Terkait