Minggu, 29 Maret 2020 | 12:53:47 WIB

Ketum KONI Minta PBTI Jaga Soliditas Organisasi

Jum'at, 31 Januari 2020 | 15:14 WIB
Ketum KONI Minta PBTI Jaga Soliditas Organisasi

(FOTO : KONI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman mengatakan, Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) bersama Pengurus Propinsi (Pengprov TI) diminta untuk menjaga soliditas organisasi. Hal tersebut disampaikan Marciano Norman ketika memberikan arahan kepada peserta Rapat Kerja Nasional Taekwondo Indonesia tahun 2020 yang berlangsung di Hotel Panisula, Jakarta, Selasa (28/1/20).

Menurutnya, hanya dengan organisasi yang kuat dan solid, segala bentuk tantangan untuk menjawab persoalan dan dinamika yang terjadi, yang bisa menghambat program pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga akan dapat diatasi dengan baik.  

“Saya minta seluruh elemen pengurus, baik di Pusat dan seluruh daerah untuk menjaga soliditas. Hal itu karena tantangan mengelola organisasi dengan dinamika yang begitu tinggi tidaklah mudah. Dibutuhkan bukan cuma konsistensi dan keterpaduan tapi juga sinergitas dan soliditas antar pengurus. Tanpa hal itu, sulit taekwondo Indonesia bisa memproduksi sumber daya atlet yang maksimal dan berkualitas dalam jangka panjang.” terang mantan Ketua Umum PBTI dua periode  (2011 – 2015 dan 2015 – 2019) itu dalam arahannya kepada peserta Rakernas.

Saat memberikan arahan, Marciano Norman sedikit flashback menceritakan pengalamannya ketika memimpin Taekwondo Indonesia sebagai Ketua Umum PBTI.  Kepada seluruh Pengprov TI yang hadir beliau menceritakan bagaimana beratnya memikul tanggung jawab sebagai Ketua Umum PBTI waktu itu. Tanggung jawab tersebut bukan saja terkait dengan urusan tata kelola organisasi dan perilaku berorganisasi yang akhirnya menimbulkan “distorsi” di tubuh taekwondo Indonesia, tapi juga terkait dengan masalah administrasi, anggaran dan bahkan ‘gangguan’ terhadap legitimasi organisasi.  

Salah satunya, ia menyebut dinamika PBTI ketika berhadapan dengan eksistensi YUTI/UTI Pro yang menyebabkan tingginya dinamika di dalam tubuh organisasi taekwondo baik di Pusat maupun di berbagai daerah. Tak sedikit dari fakta empiris mengenai masalah ini yang akhirnya menimbukan konflik organisasi. Sehingga berbagai program pembinaan, pengembangan dan prestasi menjadi terhambat.

“Dengan solidnya organisasi, baik antara PBTI dengan para Pengprov TI, maka beban tanggung jawab tersebut terasa semakin ringan. Ada sinergi, kohesi dan hubungan persaudaran serta ikatan kuat yang menyebabkan terintegrasinya semangat dan totalitas berorganisasi untuk bersama-sama maju berprestasi . Dengan konsistensi yang berpedoman pada aturan main (AD/ ART), itulah kita tetap bisa fokus pada program pembinaan dan pengembangan prestasi, yang pencapaiannya bisa sama-sama kita saksikan,” ujar Marciano

Dalam arahannya, Ketum KONI Pusat juga mengungkapkan, jelang PON XX di Papua, hingga kini masih banyak permasalahan yang memerlukan penanganan yang lebih fokus. Bukan saja terkait dengan masalah kesiapan sarana dan prasarana, tapi juga masalah kebijakan dan kesiapan anggaran. 

Karena faktor itulah akhirnya berdampak pada keputusan pemerintah yang memutuskan dari 47 cabor yang dipertandingkan menjadi hanya 37 Cabang Olahraga (Cabor) dengan justifikasi alasan yang utama adalah keikutsertaan Cabor melihat dari sisi olahraga Olimpik dan cabang olahraga yang memiliki prestasi internasional.

Sedangkan 10 Cabor yang terkena rasionalisasi, yakni balap sepeda, tenis meja, bridge, gateball, ski air, bowling, dansa, pentaque, woodball, serta soft tenis. Namun dengan pertimbangan karena Cabor-cabor tersebut sudah mengeluarkan dana besar dan persiapan panjang untuk pelatnas, maka Ketum KONI memandang perlu ke 10 Cabor tersebut harus diakomodir dan tetap bisa dipertandingkan. Walaupun tidak di Papua. Salah satu daerah yang menyatakan siap adalah Jawa Timur. Namun Keputusan ini menurutnya masih terus dalam pengkajian dan masih berlangsung (belum final).

“Saya melihat atlet Pelatnas saat ini yang masih diisi oleh Renaldy, Mariska dan lain-lain adalah termasuk atlet yang sudah lama berada di pelatnas dan prestasinya juga semakin fluktuatif, seiring dengan siklus penampilan terbaiknya. Dan kondisi inilah yang harus dipahami oleh Pengurus Besar dan disupport oleh Pengurus Propinsi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memproduksi atlet didaerahnya masing-masing. Itu yang disebut sinergitas,” kata Marciano Norman.

Dalam konteks ini, Ketum KONI meminta, agar Pengprov TI di seluruh Indonesia, melakukan banyak terobosan yang efektif untuk menciptakan regenerasi atlet. Pengurus di tingkat propinsi harus mampu mengidentifikasi dan mencetak atlet yang berkualitas dan mengikutsertakannya dalam program pembinaan dan pengembangan prestasi jangka panjang, sambil mengikuti berbagai kompetisi yang produktif demi tercapai prestasi yang terus meningkat hingga dirinya layak bersaing secara kompetitif menjadi atlet pelatnas. (ARMAN R)

Berita Terkait