Jumat, 07 Agustus 2020 | 15:47:51 WIB

TKS, Produk Unggulan Ketenagakerjaan Dalam Pembangunan Nasional

Selasa, 11 Februari 2020 | 09:06 WIB
TKS, Produk Unggulan Ketenagakerjaan Dalam Pembangunan Nasional

(FOTO : NAKER.GO.ID/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Dalam mendorong percepatan pembangunan, diperlukan penanganan dan perhatian penuh dari seluruh komponen bangsa sesuai dengan kapasitas dan wewenangnya. Para pelaku pembangunan dimaksud harus sungguh-sungguh dan berkomitmen dalam mengelola sumber-sumber yang tersedia secara efektif dan efisien. Untuk itu, pemerintah, baik pusat maupun daerah bersama-sama masyarakat perlu berinteraksi dan berintegrasi demi pencapaian pembangunan.

Salah satu realisasi  interaksi dan integrasi tersebut dapat melalui program Pendayagunaan TKS (Tenaga Kerja Sukarela), dimana para aparat yang membidangi ketenagakerjaan dituntut untuk mengembangkan kemampuan pengelolaan program dimaksud. Dengan demikian aparat dapat membina para TKS dan masyarakat binaan dalam mencapai tujuan program secara bersam-sama.

Program TKS merupakan salah satu program andalan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang memiliki riwayat panjang, yang terus mengalami perubahan sesuai dinamika perkembangan. Pada awalnya program ini dikenal sebagai program TKS - BUTSI (Tenaga Kerja Sukarela - Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia) yang terbentuk pada tanggal 1 Juni 1968 dan BUTSI beranggotakan dari unsur Departemen terkait (saat ini Kementerian).

Program TKS - BUTSI dikhususkan untuk menggerakkan pemuda agar bersedia ditugaskan ke pedesaan dalam pembangunan. Program ini dipandang berhasil oleh pemerintah, sehingga pada tahun 1971 program BUTSI menjadi bagian dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA), yaitu sebagai proyek nasional  yang disebut "Proyek Pengerahan TKS Pelopor Pembaharuan dan Pembangunan".

Bahkan TKS dengan inovasi yang ada, menciptakan berbagai kegiatan dimasyarakat, antara lain :

Sistem Padat Karya, Terapan Teknologi Tepat Guna, dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Mandiri (kewirausahaan)

Kegiatan ini sangat bermanfaat dimasyarakat dan banyak menyerap tenaga kerja. Seiring dengan perkembangan zaman program ini dilanjutkan dengan tujuan pokok untuk mendirikan dan memberdayakan kemampuan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan  dan pendapatan melalui TKS.

Pendekatan tersebut diatas lebih bersifat sosial yang dicirikan oleh pengabdian. Namun perkembangan selanjutnya menuntut pendekatan yang bersifat ekonomi, karena bagaimanapun para pemuda tersebut tidak dapat dibebani hanya sebagai pengabdi. Kenyataan menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan, keterampilan dan motivasi yang kuat untuk menjadi wirausaha.

Banyak TKS yang sudah selesai masa tugas merintis usaha dan juga bekerja di instansi pemerintah maupun swasta. Pada tahun 2013, 2014 dan 2015 selama 3 (tiga) tahun, telah diadakan penilaian dan sekaligus pemilihan TKS Teladan, bagi TKS purna yang berhasil melakukan pendampingan dan telah merintis usaha, sebagai berikut :

1. TKS Teladan 2013

a.  Juara 1, Meme Rukmini dari Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) dengan rintisan usaha  ojo snack

b.  Juara 2, Wa Ode Sertiningsih dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan rintisan usaha pembuatan kain adat.

c.  Juara 3, Syarifah Rafikah dari Aceh, dengan rintisan usaha kerajinan ayaman.


2. TKS Teladan 2014

 a. Juara 1, Suryadi dari Sumatera Barat (Sumbar), dengan rintisan usaha peternakan puyuh.

 b. Juara 2, Asep Samsul Mustopa dari Sumedang, dengan rintisan usaha perkebunan organik.

  c. Juara 3, Ahmad Rusan dari Makasar, dengan rintisan usaha perkebunan kelapa sawit.


3. TKS Teladan 2015

a. Juara 1, Irman Saputra dari Mataram, Nusa Tengara Barat dengan rintisan usaha sumur bor.

b. Juara 2, Radli dari Aceh dengan rintisan usaha peternakan ayam.

 c. Juara 3, Santi Rivai dari Gorontalo, dengan rintisan usaha peternakan sapi.


Adapun gambaran tingkat keberhasilan TKS selama 3 (tiga) tahun terakhir (Tahun 2016 sampai dengan 2018) dari hasil wawancara langsung dengan TKS Purna di 34 provinsi dengan responden sebanyak 2.076 orang, terdata bahwa :

1. TKS Purna yang berwirausaha sebanyak 974 orang,

2. TKS Purna yang bekerja pada instansi Pemerintah/Swasta sebanyak 956 orang, dan 

3. TKS Purna yang belum bekerja sebanyak 146 orang.


Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa binaan terhadap TKS sangatlah berhasil mencapai ± 95 %, dimana TKS yang telah bekerja dan berwirausaha merupakan out put keberhasilan dari program Pendayagunaan TKS.


Pembinaan Lanjutan 

Adalah merupakan tanggung jawab Pemerintah baik pusat maupun daerah untuk melakukan pembinaan lanjutan terhadap TKS purna yang sudah merintis usaha dan TKS purna yang belum bekerja, sebagai berikut :


1. TKS Purna yang sudah merintis usaha 

Pembinaan lanjutan sangat tergantung pada masalah yang dihadapi selama menjalankan usahanya, yaitu :

a. Pembinaan lanjutan bersifat langsung seperti, pelatihan tambahan, kelompok pengembangan usaha dan konseling individu.

b. Pembinaan lanjutan bersifat tidak langsung diberikan sebagai bagian dari pengelolaan business club dan diberikan kepada wirausahawan sesuai kebutuhannya masing-masing.


2. TKS Purna yang belum bekerja

Pembinaan lanjutan kepada TKS yang belum bekerja dapat diberikan pembekalan seusai kompetensinya, antara lain :

a. Menjadi pendamping profesional, atau

b. Sesuai dengan perannya sebagai pendamping dimasyarakat dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi fasilitator atau motivator atau mediator, sehingga bekal yang ada pada TKS dapat diterapkan dimasyarakat.

Dengan kompleknya permasalahan pengangguran pemuda terdidik, maka dengan pendayagunaan TKS akan terpecahkan, tentunya dengan kesungguhan dan komitmen yang kuat baik pemerintah pusat maupun daerah bersama masyarakat untuk berinteraksi dan berintegrasi dalam pengelolaan pendayagunaan TKS menuju pembangunan nasional yang berkeadilan dan merata.  (Bery Komarudzaman Dan Zakiyah)


Kedua Penulis adalah Pengantar Kerja Ahli Madya dan Pengantar Kerja Ahli Muda pada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)

Berita Terkait