Rabu, 20 Oktober 2021 | 03:57:33 WIB

Jelang Lebaran, Dinas Pertanian Akui Stok Beras di Malut Menipis

Kamis, 7 Mei 2020 | 18:20 WIB
Jelang Lebaran, Dinas Pertanian Akui Stok Beras di Malut Menipis

Stok beras di Malut masih ditampung di Bulog Ternate. (Foto: Ant/Lindo)

TERNATE, LINDO - Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara (Malut) menyatakan, stok beras saat ini menipis, karena secara total untuk ketersediaan pada April - Mei 2020 tersisa 8.700 ton atau mengalami kekurangan 3.100 ton.
 
"Meskipun ada stok beras 4.400 ton tersimpan di Perum Bulog Ternate untuk April-Mei 2020, tetapi pada Juni 2020 nanti kebutuhan beras menipis," kata Kepala Dinas Pertanian Pemprov Malut, Rizal Ismail di Ternate, Kamis.

Menurut Rizal, Malut  saat ini memiliki sentra produksi seperti di Wasilei, Kabupaten Halmahera Timur dan Kao Barat,  Kabupaten Halmahera Utara dengan dukungan kabupaten lainnya seperti Halmahera Barat dan Morotai, pengembangan padi sawah sekitar 4.000 hektare, tetapi produksinya belum bisa menutupi kebutuhan pada Agustus hingga September 2020 kalau dijual ke Ternate dan Pulau Halmahera.

Olehnya itu, Malut harus ada pemasokan beras dari daerah lainnya yakni Sulawesi dan Jawa, karena keterbatasan  stok beras lokal termnyata masih terbatas.

Sehingga akan dilakukan gerakan Malut menanam guna meningkatkan ketahanan pangan melalui kegiatan diversifikasi pangan melalui ubi-ubian, pisang dan sagu, karena dikhawatirkan kebutuhan pangan saat COVID-19 bertambah menipis.

Sebab, kata Rizal, produksi beras di Haltim dan Halut belum bisa memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat Malut, karena neraca beras ada 3.700 ton terkuras, sementara konsumsi masyarakat setiap orang sesuai data Susenas per tahun 88 Kg per orang sehingga masyarakat Malut setiap tahun membutuhkan beras 109 ribu ton, tetapi ada pemasokan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur 

Rizal mengatakan, sesuai Dana Alokasi Umum (DAK) Dinas Pertanian sebesar Rp10,5 miliar untuk sarana pertanian, DAU untuk kegiatan sosialisasi dan perjalanan dinas dan DAK Rp22 miliar, sesuai kebijakan Kemendagri dilakukan pemangkasan sekitar Rp9 miliar dari DAK dan DAU Rp6,2 miliar dialokasikan untuk penanganan COVID-19.

Olehnya itu, bantuan bagi petani hanya dialokasikan melalui APBN berupa pengadaan bibit pala dan cengkeh.

ANT/AD

Berita Terkait