Sabtu, 06 Juni 2020 | 07:19:33 WIB

Kemenangan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu, 20 Mei 2020 | 16:45 WIB
Kemenangan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini. (FOTO: REPUBLIKA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Puasa sebulan penuh selama bulan suci Ramadhan disyariatkan Allah SWT untuk mengajarkan umat Islam tentang makna ketakwaan. Maka itu, Allah menetapkan "takwa" sebagai predikat kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa Ramadhan hingga tiba pada puncak kemenangan Hari Raya Idul Fitri sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al Baqarah: 183.

Idul Fitri sendiri berasal dari dua kata, yaitu ied (berdasarkan akar kata aada-yauudu) yang artinya kembali, sedangkan fitri bisa berarti buka puasa (berdasarkan akar kata ifthar) dan bisa berarti suci (berdasarkan akar kata fathoro-yufthiru). Jadi, Idul Fitri bisa bermakna hari raya di mana umat Islam bisa kembali berbuka atau makan setelah berpuasa. Juga bisa bermakna suci: bersih dari segala dosa, kesalahan dan keburukan, sebaliknya tumbuhnya ketaatan, kepatuhan, dan kesalehan buah dari pelajaran ketakwaan selama sebulan penuh.

Takwa secara etimologis memiliki kata dasar "waqa" yang berarti menjaga, melindungi, hati-hati, waspada, memperhatikan, dan menjauhi. Para penerjemah dan penafsir Alquran mengartikan takwa sebagai kepatuhan, kesalehan, kelurusan, perilaku baik, teguh melawan kejahatan, dan takut kepada Allah.

Perjuangan untuk meraih predikat takwa pada Ramadan tahun ini memiliki makna yang lebih dalam karena puasa dijalankan di tengah wabah Covid-19. Aktivitas sosial dan fisik dibatasi sedemikian rupa untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Idul Fitri di tengah pandemi justru menjadi momentum bagi umat Islam untuk menunjukkan karakter takwa yang sesungguhnya. Karakter takwa yang muncul dalam bentuk kesaleihan sosial yang merupakan ekspresi dari kepatuhan menjalankan ajaran Allah tentang kasih sayang, empati, dan kepedulian kepada sesama umat manusia sehingga Islam dan umat Islam menjadi rahmat bagi semesta.

Wabah ini harus menjadikan pribadi muslim menjalani hidup sesuai nilai dan etika sosial yang diajarkan agama. Saling menolong, gotong royong, silaturahim—dalam arti mengenal lebih dekat kesulitan saudara-saudara kita, serta saling menguatkan dan memberi dukungan. Inilah momentum untuk menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Wabah ini harus mentransformasi kesadaran kita bahwa di luar takdir (kehendak) Allah untuk menguji hamba-Nya, melalui wabah ini Allah SWT ingin agar kita mengukuhkan kebersamaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan.

Dalam keterbatasan gerak sosial akibat kebijakan physical distancing, kita justru semakin dekat dalam perasaan senasib dan sepenanggungan. Tumbuh kesadaran dalam diri untuk patuh dan taat aturan karena kita butuh untuk saling menjaga agar tidak tertular atau menularkan virus.

Wabah korona membuka tabir betapa ketahanan nasional itu penting sekali bagi sebuah bangsa. Ketahanan di berbagai bidang: ketahanan mental, sosial dan spiritual; ketahanan ekonomi; ketahanan pangan; dan sebagainya. Hal ini semestinya menyadarkan para pengambil kebijakan negara dan pemerintahan agar bersungguh-sungguh menghadirkan kebijakan negara yang tegak lurus dan istikamah untuk menyejahterakan rakyat, bangsa, dan negara.

Setiap muslim yang lulus dari madrasah Ramadan harus benar-benar menjadi pribadi yang bersih (suci) dan saleh. Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada kaum duafa. Itu semua buah dari ketakwaan yang diraih selama Ramadan dan dipraktikkan pasca-Ramadan dengan istikamah.

Penulis : Jazuli Juwaini, Dai, Ketua Fraksi PKS DPR RI

Berita Terkait