Minggu, 12 Juli 2020 | 05:54:20 WIB

Sidang Terbuka Untuk Umum, Kenapa Hakim Larang Wartawan Liput?

Rabu, 24 Juni 2020 | 13:39 WIB
Sidang Terbuka Untuk Umum, Kenapa Hakim Larang Wartawan Liput?

Suasana persidangan di PN Jaktim. (Foto: Dailangi/Lindo)

JAKARTA, LINDO - Persidangan perkara kasus penghinaan dan pencemaran nama baik (penfitnaan) dari alat komunikasi atau elektronik, yang digelar di Pengadilan Negeri Jakrta Timur (PN-Jaktim), Selasa (26/06/2020) siang diwarnai dengan pengusiran sejumlah wartawan diruang sidang.

Pengusiran itu dilakukan oleh ketua hakim majelis persidangan PN-Jaktim. Padahal sidang itu terbuka untuk umum, dan tentu bukan hanya wartawan atau awak media saja yang menyaksikan sidang tersebut, semua pengunjung yang saat itu ikut hadir juga berhak menyaksikan dan bebas mengambil gambar.

Hakim yang memimpin persidangan itu adalah Sri Asmarani, SH, CN, sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah Hendri Dwi SH. Mereka mengadili terdakwa pencemaran nama baik oleh terdakwa saudara Jaitar Sirait.

Selain terdakwa, hakim dan jaksa juga menghadirkan 4 orang saksi, namun hanya satu orang saksi yang bisa hadir dan memberikan keterangan yaitu saudara Raja Sirait.

Raja Sirait adalah saksi dari pihak pelapor yang tidak disumpah oleh hakim. Sedangkan empat orang saksi lainnya suda diambil sumpah oleh hakim namun tidak dimintai keterangannya.

"Empat orang saksi itu tidak memberikan leterangan dengan alasan karena waktunya sudah malam sehingga persidangan ditunda kembali hingga Senin pekan depan" kata Sri Asmarani SH.

Saat sidang sedang berlangaung tiba-tiba sang hakim ketua melarang wartawan untuk mengambil gambar atas persidangan kasus pencemaran nama baik. Ironisnya, dalam suasana persidangan itu, Sri Asmarani bahkan berteriak kepada sejumlah wartawan yang saat itu sedang mengambil gambar.

"Hei.. Anda (wartawan) tidak diperkenangkan untuk mengambil gambar dalam persidangan ini, keluar anda dari ruangan ini," teriak Sri Asmarani pada awak media.

Suasana itu sempat terjadi adu argumen dan perdebatan antra hakim ketua dan para wartawan, namun tidak berlangsung lama karena beberapa petugas keamanan dalam persidangan bisa melerai dan para awak mediapun memilih meninggalkan ruang sidang.

Sejumlah pemburu berita yang setiap saat melipilut kegiatan PN Jaktim, menyesalkan insiden itu. Mereka hanya tidak puas dengan sikap ketua majelis sidang Sri Asmarani yang arogan dalam sidang.

"Kami sangat sayangkan seorang hakim ketua bersikap seperti itu pada kami "para awak media". Yang jelas kami tidak tahu apa tujuannya sehingga mejelis melarang kami untuk mengambil gambar saat persidangan. Kenapa dari awal persidangan tidak di instruksikan kalau memang persidangan kasus ini tidak boleh diliput mapun mengambil gambar. Ingat kami yang hadir saat ini adalah para wartawan kelompok kerja, PN-Jaktim dan sudah terdaftar secara resmi di PN-Jaktim," tegas salah satu wartawan yang ikut dalam insiden itu.

A. Dailangi

Berita Terkait