Minggu, 12 Juli 2020 | 07:22:01 WIB

Ada Apa, Kades Lata-lata Bangun Rumah Mewah, Kos-kosan dan Garap Tanah Seluas 1,5 Hektar

Minggu, 28 Juni 2020 | 10:31 WIB
Ada Apa, Kades Lata-lata Bangun Rumah Mewah, Kos-kosan dan Garap Tanah Seluas 1,5 Hektar

Kepala Desa Lata-lata Abdul Malik Gama bersama istrinya bernama Risty Natasya saat berpose dengan seragam kades. (FOTO: IST/LINDO)

"Desa Lata-lata butuh pemimpin yang peduli negerinya, bukan ingin memperkaya diri sendiri lalu megabaikan pembangunan dalam desa"

HALSEL, LINDO – Korupsi yang melanda di negeri ini kian hari makin menjadi-jadi. Walaupun sejumlah lembaga penegak hukum dan lembaga pengawas korupsi dibentuk namun hal itu tidak bisa membendung.

Korupsi, kolusi dan nepotisme saat ini masih membudayakan dinegeri ini. Sejumlah pelanggaran dan penyalahgunaan jabatan dan memperkaya diri sendiri terus digalakan. Hal yang paling sering dilakukan oleh pejabat daerah khusunya dipemerintahan desa adalah korupsi bantuan dana desa yang dialokasikan buat desa sering disalahgunakan oleh kades dan perangkatnya.

Hal inilah yang terjadi di desa Lata-lata, kecamatan Kasiruta Barat, kabupaten Halmaherah Selatan, provinsi Maluku Utara.

Di desa itu dilaporkan, sejumlah pembangunan fisik dan pembangunan non fisik tidak tampak sama sekali. Hal itu disebabkan karena sang Kades Lata-lata Abdul Malik Gama tidak punya itikat baik untuk merubah wajah desa tersebut. Dia lebih memilih memperkaya diri sendiri ketimbang mengurusi desanya.

Media ini mencoba menelusuri sejumlah pembangunan dan fasilitas yang ada di desa itu. Banyak sekali gambaran di desa itu tidak memiliki jati diri, alias desa yang sangat jauh tertinggal dengan desa-desa tetangganya.

Informasi yang dihimpun media ini, sang kades Abdul Malik Gama bersama istri barunya banyak melakukan aktifitas perkantoran diluar desa itu. Malik bersama istrinya bernama Risty Natasya dikabarkan telah membangun sebuah rumah mewah dan kos-kosan berukuran tujuh kamar di desa Mandaong, kecamatan Bacan Selatan, kabupaten Halmaherah Selatan.

Selain itu, Malik Gama juga memiliki sejumlah bidang tanah yang luasnya mencapai puluhan meter hektar yang terletak di desa Marabose, kecamatan Bacan, kabupaten Halmahera Selatan. Entah harta sebanyak itu ia peroleh dari hasil keringatnya sendiri ataukah ia merongrong sejumlah anggaran yang ada di dana desa atau alokasi dana desa.

Dari manakah sumber anggaran yang ia dapat, namun yang jelas saat ini Malik Gama masih menjabat sebagai kepala desa Lata-lata. Menurut sumber, setiap saat pencairan anggaran DD dan ADD, Malik selalu tampil sendirian, dia tidak mengajak perangkatnya seperti bendahara desa maupun sekretaris desa. Yang lebih parahnya lagi, pencairan dana desa di Dinas Pemberdayaan Pembangunan Desa (DPMD) kabupaten Halmaherah Selatan melalui bank yang ditunjuk selalu berjalan mulus. Seharusnya dalam aturan pencairan itu, pemerintah desa harus penuhi beberapa persyaratan dan aturan yang ada, bukan bim salah bim.

Namun kenyataannya, Malik Gama mampu menyulap berkas dan bisa mencairkan anggaran itu dengan mudah. Entah Malik sudah bermain mata dengan oknum pegawai Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) kabupaten Halmahera Selatan, sehingga dana sebesar itu Malik bisa leluasa menggotong uang itu ke rumahnya di desa Mandaong, kecamatan Bacan Selatan.

Sementara kasus lain, seperti kasus korupsi pengadaan barang dan jasa yang terjadi di desa Lata-lata, hingga kini warga disana masih sulit mendapatkan akses informasi seputar anggaran pembelanjaan untuk setiap proyek yang dikerjakan oleh Malik Cs. Namun diperkirakan setiap pencairan anggaran DD dan ADD dalam pelaksanaan proyek pembangunan desa, Malik selalu mengelabui warganya.

Sejumlah proyek dari pekerjaan itu, sejak dana desa digulirkan pada tahun 2015 hingga tahun 2019, sejumlah fasilitas umum yang digarap oleh kades Malik Gama saat ini sudah rusak total. Jalan setapak beton kondisinya sudah rusak parah, talut swering pantai yang dibangun menggunakan ADD tahun 2016 saat ini sudah rusak total. Jembatan pelabuhan dermaga milik desa Lata-lata yang dibangun menggunakan dana desa hingga kini juga hancur berantakan, bahkan tiang pancang kedasar laut sudah dirusakin dan kini tidak berfungsi lagi.

Belum lagi dengan pembelanjaan lampu penerangan jalan. Sesuai pengakuan warga disana, lampu penerangan jalan saat ini hanya berfungsi tiga tiang, selebihnya barang tersebut menjadi rongsokan besi tua.

Desa Tertinggal

Jika anda berpergian dan ingin mampir ke desa itu, akan anda kaget dan akan anda menggeleng-geleng kepala, karena batin anda akan bertanya kemana dana desa dan dana alokasi dana desa selama ini. Namun begitulah kondisi desa tersebut yang dijulukan dengan katagori sebagai desa yang ditinggalkan oleh sang pemimpin Abdul Malik Gama.

Sementara itu, kalau anda ingin bermalam atau nginap di desa itu, tentu anda sangat kesulitan, karena kondisi itu juga diperparah dengan minimnya penerangan jalan dan penerangan pasokan listrik ke rumah warga. Akibatnya, warga disana jika malam hari tiba, mereka harus rela menghidupkan mesin genset atau mesin disel dirumahnya masing-masing untuk menerangi rumah mereka dengan mesin seadanya.  

Lain hal dengan alat komunikasi, jika anda ingin berkomunikasi dengan keluarga baik lewat telepon biasa atau melalui vedio call dari medsos, tentu anda akan sulit berkomunikasi, karena diwilayah itu tidak ada jaringan komunikasi. Kondisi itu sudah terbiasa bagi warga disana, bagi mereka alat komunikasi di daerah itu bukanlah bagian dari tehknologi, namun hanya dipergunakan sebagai alat komunikasi biasa.

Banyak sekali cerita suka duka warga Lata-lata selama media ini bertandang kesana. Mereka banyak mengeluh kesah soal nasib desanya, nasib masa depan sumber daya manusianya. Termasuk ikut memikirkan soal ekonomi mereka yang hanya berkebun dan bertani, bahkan ada sebagian warga yang mau turun ke laut untuk mencari ikan sekedar buat makan saja. Tetapi pada umumnya, warga yang ada di desa Lata-lata mata pencahriannya berada di kebun.

Profil Desa

Berikut tabel perkembangan jumlah penduduk di desa Lata-lata yang dilansir dari profil desa pada tahun 2019, sebagai berikut;

Untuk janis kelamin laki-laki pada tahun 2015 sebanyak 315 orang, sedangkan perempuan jumlahnya sebanyak 295 orang dengan total keseluruhan pada tahun 2015 sebanyak 610 jiwa. Ditahun 2016 penduduk desa Lata-lata naik lagi menjadi 5,1 persen, laki-laki berada diurutan pertama dengan jumlah 332, sedangkan angka perempuan hampir mencapai 315 orang, total jumlah penduduk jiwa di tahun 2016 sebanyak 647 jiwa.

Angka berubah lagi pada tahun 2017, jumlah penduduk laki-laki di desa Lata-lata sebanyak 335 orang, sedangkan perempuan jumlahnya masih di 340 jiwa, total jiwa penduduk pada tahun 2017 sebanyak 695 orang, dan jika dipersentase kembali hanya menambah 5,20 persen.

Sementara itu di tahun 2018, angka kependudukan jiwa di desa Lata-lata naik lagi menjadi 7,9 persen. Dengan jumlah jiwa laki-laki naik sebanyak 370 orang, sedangkan perempuan jumlahnya berada di 340 orang, dengan total keseluruhan jumlah jiwa di desa Lata-lata pada tahun 2018, menjadi 710 orang.

Data profil desa juga belum menunjukan besaran luas wilayah desa itu, namun pemerintah kabupetan Halmahera Selatan hanya memberikan Kode Wilayah Administrasi dengan nomor; 82.04.15.2002.

ALDY M

Berita Terkait