Senin, 28 September 2020 | 16:06:13 WIB

Hasan: Target Kami Kades Lata-lata Abdul Malik Gama Harus Dipenjarakan

Kamis, 13 Agustus 2020 | 12:35 WIB
Hasan: Target Kami Kades Lata-lata Abdul Malik Gama Harus Dipenjarakan

Hasan Maici bersama rekan-rekan mahasiswa berpose di depan kantor kejaksaan negeri Halsel, Rabu (12/08/2020). (Foto: Pikal/Lindo)

HALSEL, LINDO - Ketua Aliansi Masyarakat Desa Lata-lata sekligus pembina Himpunan Pelajar Pemuda Mahasiswa Desa Lata-lata (Hipmadel) Hasan Maici mengatakan perjuangan mengawal kasus korupsi alokasi dana desa (ADD) dan dana desa (DD) yang dilakukan oleh kepala desa Lata-lata Abdul Malik Gama cs akan ditargetkan selesai sampai dipenjarakan dan disidangkan di pengadilan tipikor Ternate, Malut.

"Perjuangan kami dalam menghadapi kasus ini sangat luar biasa. Tantangan dan hambatan dalam kasus ini sangat menguras energi, tenaga, dan pikiran. Oleh sebab itu, kami harus punya target bahwa penanganan kasus korupsi yang dilakukan kades Malik Gama harus berakhir di pengadilan dan yang bersangkutan harus di penjarakan sesuai perbuatannya. Pokoknya target kami saudara Malik Gama harus mendekam di penjara Tipikor di Ternate," kata Hasan usai menemui penyidik Kejari Halsel pada Rabu (12/08/2020) kemarin.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kasus dugaan korupsi ini, sebenarnya sudah lama disoroti oleh Hipmadel. Namun karena data-data yang dimiliki saat itu kurang memadai sehingga ia dan teman-teman harus memilih untuk mengumpulkan datanya yang lebih falid lagi. Memasuki awal tahun 2020, dirinya bersama warga yang lain harus gerilya mencari bukti-bukti yang akurat sehingga kasus ini benar-benar bisa di pertanggungjawaban.

"Data-data yang kami laporkan ke Kejati Malut dan Kejari Halsel adalah hasil buah tangan warga Lata-lata. Semua bukti yang kami pegang ini bukan data abal-abal, data ini yang siap mempenjarakan saudara Malik Gama," kata Hasan pada media ini di halaman kantor Kejari Halsel kemarin.

Ia mengakui bahwa penyerahan data-data yang ketiga kali ini ke Kejari Halsel adalah bukti-bukti pendukung yang bisa menjerat kades Lata-lata ke ranah hukum. Dia bisa dipenjarakan kalau penyidik sudah mendalami kasus ini, apalagi data-data yang kami serahkan ini bukan asal bunyi nyaring saja, tapi lihat saja nanti, apakah bisa dijerat atau tidak, itu tergantung atas penyelidikan penyidik kejari Halsel," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Hasan meminta agar persoalan ini jangan di intervensi ke hal-hal lain. Apalagi menjelang pemilu kepala daerah, dia berharap agar pihaknya termasuk masyarakat desa Lata-lata jangan terjebak dalam suasana politik lalu dikaitkan dengan hal ini ke politik.

"Saya atas nama Aliansi Masyarakat Desa dan Himpunan Pelajar Pemuda Mahasiswa Desa Lata-lata meminta agar dugaan kasus korupsi ADD dan DD yang melibatkan kades Lata-lata Abdul Malik Gama yang nilainya mencapai miliyaran rupiah itu, sebaiknya jangan digiring ke ranah politik nanti hasil akhirnya akan menelan pil pahit. Kita harus komitmen bahwa persoalan ini adalah murni hukum dan murni pelanggaran tindak pidana korupsi," pinta Hasan.

Diakhir penyampaiannya, Hasan mengakui bahwa ia dan teman-teman akan fokus bekerja soal tindak pidana korupsi yang menjerat kadesnya. Dalam waktu dekat kata dia pihaknya akan kembali lagi ke lembaga ini guna menyerahkan bukti-bukti yang akan merangsang penyidik dalam memproses kasus ini.

"Kami sudah siapkan para saksi sekaligus pelapor yang baru, termasuk bukti-bukti yang jitu soal kasus korupsi ADD dan DD ini. Tunggu saja tanggal mainnya, kami akan buktikan ke penyidik kejari kalau kasus ini bukan kasus main-main. Kami ingin agar kasus ini segera ditangani dan segara dituntaskan," ujarnya.

Sementara itu dalam pertemuan kemarin di kejari Halsel, Hasan hanya memgakui bahwa data-data yang ia berikan pada penyidik adalah berupa pengaduan indikasi penyalahgunaan jabatan dan wewenang kepala desa Lata-lata soal harta dan aset milik Abdul Malik Gama.

"Data-data yang kami berikan tadi pada penyidik jaksa, adalah bukti-bukti harta dan aset milik kades Lata-lata Abdul Malik Gama yang tersebar di beberapa wilayah. Ada rumah di Kota Ternate, rumah dan tanah di desa Lata-lata, rumah dan tanah yang ada di Bacan, Halsel. Masa kamu pencuri sampe sebanyak itu lalu kamu belanja tanah dan bangun rumah kosan di Labuha Bacan, Halmahera Selatan. Kamu pengusaha atau kepala desa kok duit sebanyak itu. Jangan-jangan harta sebanyak itu hasil rampok dari BLT atau dana desa lagi. Itu yang patut kami curigai," tuturnya.

ALDY M

Berita Terkait