Jumat, 30 Oktober 2020 | 11:43:38 WIB

Abdul Malik Gama Belum Serahkan LPJ, Pihak Kejari Halsel Sudah Berikan Warning

Selasa, 22 September 2020 | 18:36 WIB
Abdul Malik Gama Belum Serahkan LPJ, Pihak Kejari Halsel Sudah Berikan Warning

Warga Lata-lata saat berada dikantor Kejaksaan Negeri Labuha, Halsel, Senin (27/08/2020). (Foto: Aldy/Lindo)

HALSEL, LINDO - Dokumen Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) tahun anggaran 2017 sampai dari tahun anggaran 2019, milik desa Lata-lata yang disimpan oleh Kepala Desa Lata-lata Abdul Malik Gama belum juga diserahkan pada penyidik kejaksaan Negeri Labuha, Halmahera Selatan (Kejari Halsel).

"Dokumen Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) milik desa Lata-lata yang disimpan oleh Abdul Malik Gama hingga pemanggilan kedua dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Labuha Halmahera Selatan (Halsel), belum juga ia serahkan. Semua ada sembilan rangkap yang harus Malik Gama serahkan pada penyidik. Entah itu alasan yang sengaja dia buat-buat, atau sengaja ia tidak mau berikan pada penyidik Jaksa. Yang jelas kejaksaan sudah berikan warning ke dia selama dua minggu kedepan dan terhitung sejak tanggal 13 September 2020," kata Ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Desa Lata-lata (Hippmadel) Arnol Faici, usai bertemu dengan penyidik kejaksaan di kantor Kejari Halsel, Selasa (22/09/2020) siang.

Ketidak patuhan kades dalam permintaan data LPJ itu, adalah termasuk katagori perbuatan yang tidak menyenangkan dan perbuatan yang melawan hukum, hal itu sudah diatur dalam Undang-undang Tindak Pidana Umum maupun Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

"Dia kalau langgar yang ketiga kalinya maka penyidik bisa menggunakan Undang-undang di atas untuk menjerat dia soal ketidak patuhan dia dalam permintaan data-data dan dokumen yang ia miliki saat ini," ujarnya.

Sebelumnya, tiga orang warga dari desa Lata-lata telah melaporkan kadesnya ke Kejaksaan Tinggi Maluku Utara. Namun dalam laporan itu Kepala Kejati Malut Dr Erryl Prima Putera Agoes SH, MH, memerintahkan pada Kepala Kejari Halsel Fajar Haryowimbuko SH, MH, agar kasusnya segera ditindaklanjuti. Lalu pada akhir Agustus 2020, tujuh orang warga dari mantan kaur dan mantan Badan Permuswartan Desa (BPD) desa Lata-lata memasukan laporannya ke penyidik Kejari Labuha Halsel soal tindak pidana korupsi yang diakukan oleh kades Lata-lata Abdul Malik Gama.

Saat ini kasusnya sedang berjalan dan masuk ketahap penyilidikan. Penyidik tidak mau gegabah soal kasus ini, namun yang jelas penyidik sedang berusaha untuk mencari celah ada atau tidak penyalahgunaan anggaran dalam unsur kerugian negaranya.

Arnol menjelaskan bahwa pihaknya selalu bangun komunikasi dengan penyidik Kejari Halsel, guna memantapkan persepsi soal korupsi yang saat ini marak di desa-desa termasuk desa Lata-lata. Arnol mengingatkan agar kasus ini Kejari Halsel harus profesional menanganinya, jangan kesan dibiarkan atau diulur-ulur waktunya.

"Yang jelas kami tidak ingin kasus korupsi desa Lata-lata ini diabaikan begitu saja oleh penyidik Kejari Halsel. Kalian harus profesional dalam meneliti kasus korupsi desa Lata-lata, jangan sampai kesan masalah ini diabaikan begitu saja," jelas Arnol.

Dalam kesempatan itu, Arnol berharap agar penyidik segera memanggil ulang kades Lata-lata dalam rangka untuk mempertegas isi LPJ itu yang sudah ia janji-janji.
"Kalau sampai lambat dan ditunda lagi, kapan maslah ini bisa tuntas pak, kami dan warga Lata-lata ingin kepastian hukum. Dan kami ingin Abdul Malik Gama segera di tangkap dan segera dipenjarakan sesuai perbuatannya," harapnya.

Arnol mengakui bawa pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan aksi besar-besaran dalam rangka mendorong penyidik Kejati dan penyidik Kejari Halsel agar segera tuntaskan kasus korupsi yang terjadi di desa Lata-lata. Karena bagi mereka kasus desa Lata-lata saat ini sudah memasuki waktu yang cukup lama yaitu sekitar empat bulan lamanya.

"Kalau kasus desa Lata-lata saat ini sudah masuk 4 bulan, sejak kami laporkan di Kejati Malut pada tanggal 3 Juli 2020. Sementara kasusnya, baru memgendap di Kejari Halsel, statusnya baru penyilidikan, belum ke tahap penyidikan. Mudah-mudahan kasus ini segera dituntaskan oleh penyidik Kejari Halsel. Kami ingin ada kepastian hukum dan kejelasan dari pihak Kejari Halsel, soal korupsi kades Lata-lata Abdul Malik Gama," akunya.

Dalam penegasannya, Arnol berharap pada aparat penegak hukum di negeri ini agar benar-benar menegakan keadilan dan kebenaran dalam tabir kasus korupsi dana desa yang ada di desa Lata-lata.

"Kalau yang terjadi di desa Lata-lata itu banyak sekali fariasi, ada penyalahgunaan anggaran, ada laporan fiktif dan ada pula penyalahgunaan jabatan, termasuk proyek mangkrak alias anggaran habis. Kalau  penyidik kejaksaan atau inspektorat yang turun infestigasi desa kami maka mereka akan sangat kaget dan melihat realisasi dilapangan, pasti mereka bingung dan pasti mereka heran dengan keadaan desa kami itu," tandasnya.

Maka dari itu, Arnol meminta pada kejaksaan negeri Labuha agar segera naikan status penyelidikan ke tahap penyidikan supaya kasus ini ada titik terangnya. Ia sangat berharap agar kasus ini jangan terlalu lama di pendam nanti tidak akan ada hasil akhirnya.

"Waktu yang kami berikan ini sudah sangat toleransi buat penyidik kejaksaan. Kalau sampai lama lagi maka nasib kasusnya akan ngambang kemana-mana lagi," pintanya.

Arnol berjanji jika nanti kasus ini sengaja dibiarkan lagi oleh penyidik kejaksaan, maka pihaknya akan melakukan presur secara besar-besaran. Baik itu di kantor Kejaksaan Tinggi ataupun di kantor Kejari Labuhabdi Halsel.
"Kami sudah siapkan pasukan secara besar-besaran untuk aksi jilid dua di kantor Kejaksaan Tinggi Malut pada awal bulan depan. Sementara aksi susulan yang kami gelar di Kejari Labuha Halsel akan digelar pada waktu yang berbeda lagi. Itu semua nanti kami beritahukan lewat kepolisian setempat, jadi tunggu saja kabar dari kami," tuturnya.

ALDY M

Berita Terkait