Sabtu, 28 November 2020 | 23:24:33 WIB

Wow !!! Berburu Tersangka Penipuan Dapat Hadiah

Selasa, 27 Oktober 2020 | 09:33 WIB
Wow !!! Berburu Tersangka Penipuan Dapat Hadiah

ANA. (FOTO : ISTIMEWA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tiga tahun sudah buronan pihak kepolisian Polres Jakarta Utara (Jakut) dalam skandal kasus penipuan dan penggelapan, atas nama tersangka Abdullah Nizar Assegaf atau berinisial ANA, belum ditemukan.

Sehingga wajar saja apabila kuasa hukum Deepak Rupo Chugani, Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL Berencana akan menggelar sayembara berhadiah bagi siapa pun yang dapat mencomot sekaligus memfoto pria penipu tersebut digiring ke penjara. Imbalannya tentu sangat menggiurkan dimasa pandemi seperti ini.Yakni berupa uang tunai total sebesar Rp 55 juta. Wow!

“Lomba ini terbuka bagi aparat kepolisian, meskipun hal tersebut merupakan tugas serta tanggung jawab mereka sebagai apara apatur sipil negara. Untuk menghadirkan tersangka Abdullah Nizar Assegaf ke pihak kejaksaan,” kata Hartono Tanuwidjajabiasa, sebagaimana dilansir Lindo dari sketsindonews.com Senin (21/9/20).

Menurutnya, pembukaan sabung informasi tersebut bermula pada kalender Oktober 2020. Tujuan lomba ini, untuk memompa semangat korps bhayangkara Polres Jakut agar menjalankan amanahnya selaku pemberangus kejahatan secara tepat waktu dan tidak bertele-tele.

Tersangka ANA sampai detik ini enggan memenuhi panggilan penyidik Polres Jakut. Padahal Hartono menegaskan, penyidik mempunyai wewenang untuk menangkap paksa yang bersangkutan. Apabila kepolisian telah memanggil secara layak dan patut tersangka ANA.

“Soal tindakan ini (membuat sayembara), menyindir atau meledek pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab, kami sama sekali tidak bermaksud demikian. Bagi kami bagaimana agar proses hukum kasus ANA ini tuntas, itu saja,” ujar Hartono.

Sementara itu, Kasi Pidum Kejari Jakut Satria Irawan SH MH mengaku, lembaganya masih menyimpan berkas kasus ANA yang sudah dinyatakan memenuhi syarat materiil maupun formil (P21) beberapa tahun silam. 

“Kalau kami kembalikan ke Polres Jakut menjadi repot kami nanti pada saat tersangka ANA dapat ditangkap aparat Polres Jakut. Tidak bisa langsung diserahkan kepada kami karena berkasnya sudah di Polres Jakarta Utara. Maka berkas itu tetap kami simpan di sini, dan kami menunggu saja kapan penyidik Polres Jakut menyerahkan tersangka ANA kepada kami,” ujar Satria, di Jakarta, Jum’at (18/9/20). 

Pada kesempatan berbeda, Humas Polres Jakut Kompol HM Sungkono saat dikonfirmasi mengenai tidak bisa dihadirkannya atau diserahkannya tersangka ANA ke penuntut umum Kejari Jakarta Utara, tidak menanggapi konfirmasi lewat WA. Demikian pula penasihat hukum tersangka ANA, tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. 


Kronologi kasus Tersangka ANA

Perlu diketahui, Tersangka ANA dilaporkan ke Polres Jakarta Utara pada 11 Oktober 2017 silam. Hanya berselang beberapa saat, statusnya kemudian ditingkatkan menjadi tersangka. Namun entah mengapa hingga saat ini penyidik Polres Jakut tidak pernah menerbitkan surat perintah penahanan. Seolah tidak ada kekhawatiran para penyidik atas sikap tersangka ANA yang bakal berlaku kurang kooperatif bahkan melarikan diri dari tanggung jawab hukumnya. 

Perbuatan memperdayai saksi korban Deepak Rupo Chugani dilakukan tersangka ANA dengan cara menawarkan sebidang tanah. ANA kemudian meminta kepengurusan surat-surat tanah tersebut dengan meminta upah atawa bayaran sebesar Rp 7 miliar. Untuk itu surat-surat itu tak kunjung diurus tersangka. 

Tersangka ANA memberikan empat lembar cek Bank Mitra Niaga Cabang Kelapa Gading, Jakut. Namun ketika cek tersebut dicairkan hanya tiga lembar yang diterima bank dengan nilai Rp 3 miliar. Sedangkan satu lembar cek lagi ditolak dengan alasan tak ada uangnya. 

Selanjutnya, tersangka memberikan lagi cek. Namun ternyata ceknya kosong lagi. Terbukti pihak bank memberikan Surat Keterangan Penolakan (SKP) pencairan yaitu dari Bank Mitra Niaga sebesar Rp 4 miliar pada 14 Juni 2017 lalu, Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 3,5 miliar tanggal 24 November 2017 dan Bank Mandiri sebesar Rp 4 miliar dengan alasan saldo tidak mencukupi. 

Padahal, ungkap Hartono, sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No 372/Tebet Barat atau tanah yang dijual tersangka kepada korban sudah dihapus di Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau sudah berubah menjadi HGB No 3002 atas nama orang lain lagi. 

Oleh karena saksi korban seorang pengusaha, maka kerugiannya menjadi bertambah-tambah akibat terlalu lambatnya proses hukum kasus ANA.

Hartono menambahkan, ANA adalah seorang Residivis, yang sudah pernah ditahan ke Rutan Medaeng selama 8-9 bulan. (ARMAN R/SKETSINDONEWS.COM

Berita Terkait