Jumat, 18 Juni 2021 | 06:51:50 WIB

Pemberdayaan Dan Peran Strategis Pendamping Usaha Masyarakat

Minggu, 23 Mei 2021 | 22:31 WIB
Pemberdayaan Dan Peran Strategis Pendamping Usaha Masyarakat

Logo Kemnaker (FOTO : SUMBER.COM

Oleh : Bery Komarudzaman SH, Pengantar Kerja Ahli Madya Kemnaker

 

Konsep Pemberdayaan

Pemberdayaan merupakan suatu konsep yang menjelaskan berbagai upaya untuk memperkuat posisi seseorang melalui penumbuhan kesadaran dan kemampuan individu yang bersangkutan untuk mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dan memikirkan langkah - langkah mengatasinya. Inti dari kegiatan pemberdayaan adalah motivasi untuk memahami kondisi dan situasi kerja sehari-hari serta menumbuhkan kemampuan dan keberanian mereka untuk bersikap kritis terhadap kondisi yang mereka hadapi, sehingga kuncinya yaitu membangun partisipasi ( Tim Divisi Ekonomi DD, 2015;27).

Menurut kaidah ekonomi, pemberdayaan masyarakat (Community Development) adalah proses perolehan pelaku ekonomi untuk mendapatkan surplus value sebagai hak manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi atau melalui kebijakan politik ekonomi yang tepat dengan kondisi dan tingkatan sosial budaya.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan masyarakat dengan memperkuat kelembagaan masyarakat agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan. Implementasi pemberdayaan itu sendiri sangat bervariasi dari waktu ke waktu. Ada dua macam cara yang digunakan, yaitu gaya partisipasi dengan berbasis hubungan pertemuan dan gaya yang cenderung top down (dari atas kebawah) berbasis hubungan yang bersifat paternalistik. Pada masa lalu program pemberdayaan masyarakat, biasanya dirancang ditingkat pusat (atas) dan dilaksanakan oleh instansi provinsi dan kabupaten (top down). Masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut tidak diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan dan berperan sebagai obyek. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan dan menganggap masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan  merumuskan persoalan serta kebutuhan-kebutuhannya. Dalam pandangan ini masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuan dari luar.

Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas kebawah semacam ini hasilnya tidak seperti yang diharapkan dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat. Batuan yang diberikan lebih banyak menciptakan ketergantungan yang pada gilirannya akan lebih menyusahkan masyarakat dari pada menolongnya, karena bantuan tersebut kadang-kadang tidak sesuai kebutuhan dan prioritas yang diinginkan masyarakat.

Program pemberdayaan masyarakat saat ini memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama/subyek, sehingga masyarakat itu sendiri yang menentukan kebutuhan  dan prioritas yang diinginkannya. Program ini memiliki tiga karakter utama yaitu berbasis masyarakat (Community based), sumber daya setempat (resource based) dan berkelanjutan (sustainable). Sedangan sasaran yang ingin dicapai, yaitu kapasitas masyarakat dan kesejahteraan

Pemberdayaan masyarakat juga dapat didefiniskan sebagai tindakan sosial dimana penduduk sebuah komunitas mengorganisasikan diri dalam membuat perencaaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. Pendeketan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan,tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunan itu sendiri.


Menurut wiranto (1999), pemberdayaan merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk kategori miskin untuk melakukan kegiatan sosial ekonomi yang produktif, sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih besar. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya diarahkan untuk meningkatkan akses bagi individu, keluarga dan kelompok masyarakat terhadap sumber daya untuk melakukan proses produksi dan kesempatan berusaha. Untuk dapat mencapai hal tersebut diperlakukan berbagai upaya untuk memotivasi dalam bentuk antara lain bantuan modal dan pengembangan sumber daya manusia.

Untuk mengelola sumber daya tersebut, model pembangunan (Community development) merupakan alteratif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, utamanya masyarakat pedesaan. Dimana sasaran utama community development (CD) adalah menolong masyarakat untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat didaerah dengan produksi dan sumber daya yang dimilikinya. Hasil akhir dari CD ini adalah terciptanya masyarakat yang mandiri atau masyarakat yang mampu menciptakan prakarsa sendiri (Self Propelling) dan pertumbuhan ekonomi yang berwawasan lingkungan (sustainable economic growth) dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Sejalan dengan itu, Gany (2001) juga berpendapat bahwa konsep pemberdayaan dapat dilihat sebagai upaya perwujudan interkonektisitas yang ada pada suatu tatanan dan/atau penyempurnaan terhadap elemen tatanan yang diarahkan agar suatu tatanan dapat berkembang secara mandiri. Dengan kata lain pemberdayaan adalah upaya-upaya yang diarahkan agar suatu tatanan dapat mencapai suatu kondisi yang memungkinkannya membangun dirinya sendiri.


Pengembangan dan Strategi Pemberdayaan
1. Berdasarkan pemikiran tersebut diatas maka dalam aktivitas pemberdayaan terdapat tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya yaitu :
a. Pengetahuan dasar dan keterampilan intelektual (kemampuan menganalisis hubungan sebab akibat atas setiap permasalahan yang muncul).
b. Mendapatkan akses menuju sumber daya materi dan non materi guna mengembangkan produksi maupun pengembangan diri.
c. Organisasi dan manajemen yang ada dimasyarakat perlu difungsikan sebagai wahana pengelolaan kegiatan kolektif pengembangan diri.

Oleh karena itu pemberdayaan adalah upaya untuk mendorong dan memotivasi sumber daya yang dimiliki serta berupaya mengembangkan dan memperkuat potensi tersebut, yaitu dengan penguatan individu dan organisasi dengan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki. Pemberdayaan masyarakat juga ditujukan untuk mengikis fenomena kemiskinan.

2. Strategi pemberdayaan sistem perekonomian harus didukung oleh langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mobilisasi sumber keuangan  (Financial Resources Mobilization)
Untuk mendorong akumulasi modal di pedesaan, perlu dibangun lembaga ekonomi rakyat yang mengakar dan mandiri. Lembaga ini digunakan bagi peningkatan tabungan masyarakat dan investasi untuk diversifikasi ekonomi rakyat di pedesaan. Lembaga ini dikelola secara amanah dan profesional oleh tenaga-tenaga muda desa, yang didampingi oleh “supervisor” tenaga terdidik dari perbankkan, sedangkan peranan pemerintah adalah pendidikan dan pelatihan tenaga-tenaga muda perbankkan, bekerja sama dengan lembaga perbankkan. Untuk memberdayakan kelembagaan ekonomi ini diperlukan kebijakan publik yang memihak kepada rakyat banyak.

b. Nilai tukar desa (Terms of Trade)
Nilai tukar desa yang tinggi perlu diupayakan pemerintah melalui keterpaduan ekonomi pedesaan kedalam reformasi nasional dan internasional. Untuk itu perlu ketersediaan prasarana komunikasi dan teknologi tepat guna. Upaya lainnya ialah peningkatan kelancaran arus barang dan jasa, dengan memperhatikan alokasi dana pembangunan yang ditekankan pada pembangunan prasarana phisik dan perbaikan sistem transportasi kewilayah pedesaan yang langsung berkaitan dengan kegiatan ekonomi rakyat. Sasarannya adalah rendahnya biaya transportasi dan peningkatan keuntungan yang diterima oleh pengusaha-pengusaha di desa.

c. Program paritas pendapatan (Income Parity Program)
Maksud dari sektor-sektor pedesaan ini adalah menjaga keseimbangan tingkat pendapatan antara pedesaan dan perkotaan. Program ini terdiri atas :
1) Pengembangan struktur ekonomi pedesaan untuk mencapai skala ekonomi,
2) Perluasan sistem produksi secara selektif, sesuai dengan perubahan permintaan, dan
3) Kebijakan harga pangan untuk pemantapan nilai tukar produk-produk pedesaan.

d. Peningkatan kemampuan teknologi tepat guna.
Kemampuan teknologi perlu diarahkan untuk pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam di pedesaan. Alokasi dana pembangunan untuk penelitian (research and development) teknologi desa perlu mendapat prioritas, dan pola penelitian partisipatif perlu dikembangkan, bekerja sama dengan lembaga penelitian pemerintah/swasta.

Pemberdayaan kelompok-kelompok fungsional masyarakat di wilayah pedesaan menjadi “Receiving Systems” yang mampu mengakses dan mengadopsi  berbagai peluang inovasi dari berbagai sumber inovasi yang umumnya berada di wilayah perkotaan.

Prinsip - prinsip  yang harus diperhatikan dan diimplementasikan dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat :
1. Pemberdayaan berbasis masyarakat,
masyarakat mendapat kewenangan dan hak - hak otonom untuk mengelola kegiatan secara mandiri dan partisipatif;
2. Sensitif terhadap jender dan kemiskinan,
setiap kegiatan yang dilaksanakan harus selalu mempertimbangkan keberadaan kelompok miskin dan perempuan. Keberpihakan ini sangat penting mengingat kedua kelompok tersebut sering termajinalisasi;

3. Transparansi,
pengelolaan kegiatan harus dilakukan secara transparan (terbuka) dan diketahui oleh masyarakat luas. Dengan transparansi maka segala sesuatu yang dilakukan akan dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat;
4. Berkelanjutan,
kegiatan yang dilaksanakan ini harus berkelanjutan menjadi program ditengah masyarakat dan pengelolaan program selanjutnya dilaksanakan oleh masyarakat secara swadaya.

Pencapaian tujuan tersebut akan diupayakan dengan pembentukan kelembagaan masyarakat yang berasal dari aspirasi dan kepentingan masyarakat itu sendiri. Terjadinya berbagai perubahan yang positif ditengah-tengah kehidupan masyarakat merupakan salah satu kenyataan yang diharapkan muncul dari pelaksanaan kegiatan. Perubahan yang dimaksud termasuk tumbuh dan berkembangnya kelembagaan masyarakat dalam rangka meningkatkan mobilitas kegiatan masyarakat, dimana semua hal itu diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan.

Meskipun perluasan konsep pemberdayaan berbeda - beda antara ahli yang satu dengan yang lainnya, tetapi pada intinya dapat dinyatakan bahwa pemberdayaan adalah sebagai upaya berencana yang dirancang untuk merubah atau melakukan pembaharuan pada suatu komunitas atau masyarakat dari kondisi ketidakberdayaan menjadi berdaya dengan menitikberatkan pada pembinaan potensi dan kemandiriaan masyarakat. Paling tidak ada empat kata kunci dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu :
1. Peningkatan kemampuan masyarakat.
2. Terciptanya kemandirian masyarakat.
3. Meningkatnya taraf kehidupan masyarakat.
4. Terpeliharanya kesinambungan kegiatan pembangunan.

Faktor internal dan eksternal merupakan hal yang tak terpisahkan dalam proses pemberdayaan masyarakat, kedua faktor itu saling mempengaruhi dan berkontribusi secara sinergis dan dinamis. Menurut Deliveri (2004) proses pemberdayaan masyarakat perlu didampingi oleh suatu tim fasilitator yang bersifat multidisiplin. Dalam istilah asing fasilitator disebut juga sebagai pekerja masyarakat (Community Worker) atau perorganisasian masyarakat (Community Organizer). mereka memiliki enam fungsi utama, yaitu :
1. Membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka.
2. Membangkitkan dan mengembangkan organisasi/lembaga dalam masyarakat.
3. Mengembangkan hubungan antar pribadi.
4. Mengfasilitasi perencanaan yang baik dan efektif.
5. Membantu pelaksanaan program /rencana kegiatan agar sumber daya efektif dan efisien.
6. Membantu memonitor dan mengevaluasi perkembangan pelaksanaan kegiatan.

Mengenai dimensi dan tingkatan pemberdayaan menurut UNDP (1998), paling tidak ada tiga tingkatan atau level yang harus dicapai pada program pemberdayaan, yaitu :
1. Pemberdayaan tingkat individu, berupa pengembangan potensi dan keterampilan,
2. Pemberdayaan pada tingkat kelompok/organisasi, yang berhubungan dengan peningkatan partisipasi kelompok dalam pembangunan, dan
3. Pemberdayaan pada tingkat sistem, yakni berwujud meningkatnya kemandirian masyarakat baik secara ekonomis, sosiologis maupun politis.

Sasaran utama dari pemberdayaan masyarakat adalah membuka akses bagi kaum yang terpinggirkan/marjinal dalam pembangunan, termasuk kaum perempuan dan golongan tidak berdaya lainnya. Untuk itu pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat, menganalisa kondisi dan potensi serta masalah - masalah yang dihadapi.

Pada tingkat individu, pemberdayaan dapat dikatakan berhasil manakala mampu mengembangkan pola pikir, pola sikap dan pola tindak. Dan pada tingkat kominitas, dampak dari pemberdayaan adalah berkembangnya nilai - nilai sosial dan struktur sosial baru dan kelembagaan yang semakin efektif memenuhi kebutuhan komunitas.

Pada tingkat individu dan komunitas, agar tercapai efektivitas pemberdayaan masyarakat, maka diperlukan peran pendamping yang diharapkan dapat berkontribusi dalam menunjang keberhasilan program pemberdayaan masyarakat, dengan berperan sebagai fasilitator pembangunan masyarakat.


Peran Strategis Pendampingan

Dikalangan dunia pengembangan masyarakat istilah “pendampingan” merupakan istilah baru yang muncul sekitar tahun 90an, sebelum itu istilah yang banyak digunakan adalah “pembinaan”. Ketika istilah pembinaan ini dipakai terkesan ada tingkatan yaitu ada pembina dan yang dibina, pembina adalah orang atau lembaga yang melakukan pembinaan, sedangkan yang dibina adalah masyarakat. Kesan lain yang muncul adalah pembina sebagai pihak yang aktif sedangkan yang dibina pasif atau pembina adalah sebagai subyek dan yang dibina ada obyek.

Ketika istilah pendamping dimunculkan, langsung mendapat sambutan positif dikalangan praktisi pengembangan masyarakat. Karena kata pendampingan menunjukan kesejajaran (tidak ada yang satu lebih dari yang lain), yang aktif justru yang didampingi sekaligus sebagai subyek utamanya, sedang pendamping lebih bersifat membantu saja. Dengan demikian pendampingan dapat diartikan sebagai satu interaksi yang terus menerus antara pendamping dengan anggota kelompok atau masyarakat yang sadar diri dan terdidik, (secara nonformal). Pendamping adalah pemandu wirausaha (di Kemenaker lebih dikenal dengan istilah TKS - tenaga kerja sukarela) yang berperan sebagai fasilitator, motivator dan mediator bagi kelompok usaha masyarakat dan pencari kerja.

Pendamping adalah fasilitator sekaligus agen pembawa perubahan, memiliki peran dan fungsi memfasilitasi, mengedukasi dan mewakili kepentingan komunitas sasaran yang tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhannya agar menjadi lebih berdaya (self reliance), tim divisi ekonomi DD,2015 ; 29. peran seorang pendamping diperlukan agar proses pengembangan komunitas dapat berlangsung secara bertahap, partisipatif, mandiri dan berkelanjutan menuju kearah perubahan yang lebih baik.

Dari  pengertian pendamping adalah terjadinya proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh masyarakat sendiri, maka itu berarti adanya proses inisiatif dan bentuk tindakan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri tanpa adanya intervensi dari luar. Dengan demikian tujuan utama dari pendampingan adalah adanya kemandirian kelompok masyarakat. Kemandirian disini menyiratkan suatu kemampuan otonom untuk mengambil keputusan bertindak berdasarkan keputusannya itu dan memilih arah tindakannya sendiri tanpa terhalang oleh pengaruh dari luar atau yang diinginkan oleh orang/pihak lain.

Untuk mencapai kemandirian yang demikian dibutuhkan suatu kombinasi dari kemampuan materi intelektual, organisasi dan manajemen. Dengan demikian terdapat tiga elemen pokok yang perlu diketahui dalam kemandirian, yaitu :
1. Kemandirian Material,
Kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar dan mekanisme untuk tetap dapat bertahan pada waktu krisis. Hal ini bisa diperoleh melalui proses mobilisasi sumber daya pribadi dan/atau  keluarga dengan mekanisme menabung dan penghapusan sumber daya nonproduktif.

2. Kemandrian Intelektual,
Pembentukan dasar pengetahuan otonom oleh masyarakat yang kemungkinan mereka menanggulangi bentuk - bentuk dominasi yang muncul. Dengan dasar tersebut masyarakat akan dapat menganalisa hubungan sebab akibat dari suatu masalah yang muncul.

3. Kemandirian pendamping,
Kemampuan otonom masyarakat untuk mengembangkan diri mereka sendiri dalam bentuk pengelolaan tindakan kolektif yang membawa pada perubahan kehidupan mereka (sebagai catatan : dalam proses pendampingan ada intervensi pendamping dari luar, maka pada tahap kemandirian pendamping kelompok masyarakat berasal dari dalam).

Bila tujuan pendampingan kelompok masyarakat adalah terwujudnya kemandirian dibidang materi intelektual, organisasi dan manajemen, oleh karena itu fokus pendampingan harus mengarah pada pencapaian tujuan tersebut, yakni melalui :
1. Penyadaran berfikir kritis dan analitis,
Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan meneliti hubungan sebab akibat yang ditimbulkan dari masalah tersebut.

2. Penggunaan atas hak dan kewajiban individu dan kolektif,
Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa bertindak atas dasar hak dan kewajiban yang dimiliki.

3. Tertib administrasi dan keterbukaan organisasi,
Yaitu mengajak anggota kelompok terbiasa bahwa tertib administrasi dan keterbukaan didalam organisasi bukan didasari kecurigaan tetapi justru merupakan cermin pertanggungjawaban diantara mereka.

4. Pengembangan sumber daya produktif,
Yaitu mengajak anggota kelompok sadar agar dalam mengembangkan usaha bukan sekali beruntung, tetapi usaha yang untung secara berkelanjutan. Hal ini berarti dalam berusaha bukan hanya mengambil/memanfaatkan tetapi juga harus mampu melestarikan dan mengembangkan sumber daya produktif yang ada.

Secara garis besar pendamping masyarakat memiliki tugas utama yaitu membantu masyarakat untuk memutuskan/menetapkan tindakan yaitu dengan memberikan banyak informasi kepada masyarakat, agar masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai untuk memilih dan menetapkan tindakan yang dapat menyelesaikan masalah mereka.
Dengan kemampuan fasilitasinya pendamping mendorong masyarakat untuk mengenali masalah atau kebutuhannya (berikut potensinya) dan mendorong masyarakat untuk mengenali kondisinya. Menjadi begitu penting karena hal ini adalah langkah awal untuk memulai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kemampuan masyarakat. Keterampilan fasilitasi dan komunikasi sangat dibutuhkan untuk menjalankan peran ini.

Dengan keterampilan khusus yang diperoleh dari lingkup pendidikannya atau dari pengalamannya, pendamping dapat memberikan keterangan-keterangan teknis yang dibutuhkan oleh masyarakat saat mereka melaksanakan kegiatannya. Keterangan-keterangan yang diberikan oleh pendamping bukan bersifat mendikte masyarakat melainkan berupa penyampaian fakta-fakta atau contoh-contoh agar masyarakat lebih muda untuk mengambil sikap atau keputusan. Dalam kaitan pemberdayaan masyarakat, peran utama pendamping adalah melakukan pembelajaran kepada masyarakat.

Kaderisasi
Yaitu mengajak anggota kelompok sadar bahwa dalam suatu proses pendampingan dimana adanya intervensi dari luar yakni pendamping sebagai pendamping pada saatnya akan berakhir dan harus digantikan oleh pendamping yang datang dari dalam kelompok itu sendiri.

Dalam pembahasannya sebelumnya telah diuraikan bahwa dalam proses pendampingan kelompok masyarakat pada awalnya akan terjadi intervensi dari luar yaitu dengan adanya pendamping dari luar. Tetapi ketika kelompok telah mencapai tahap kemandirian, maka peran pendamping dari luar akan digantikan oleh pendamping dari dalam kelompok itu sendiri. Oleh karena itu siapapun dan dari manapun, seorang pendamping kelompok masyarakat adalah mereka yang :
1.    Mempunyai komitmen pada pengembangan kaum marginal.
2.    Percaya pada kreativitas kaum marginal/miskin.
3.    Mempromosikan pembebasan kemampuan kreatif kaum miskin.
4.    Membantu menanggulangi rintangan menuju pada tindakan.
5.    Obyektif, pandangan bebas dari prasangka atau tidak terikat pada suatu paham pengetahuan tertentu, tetapi lebih mendasarkan pada suatu perspektif sosial tertentu yang ada pada masyarakat.

Para pendamping inilah selanjutnya yang kita sebut sebagai para agen pembaharuan. Mendasarkan pada pengertian tersebut diatas sejumlah peran kiranya bisa diambil oleh seorang pendamping, tetapi dalam besarannya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Konsultan
Dalam hal ini pendamping harus mampu menjadikan dirinya tempat bertanya, menampung permasalahan atau kendala-kendala yang dihadapi para fungsionaris kelompok masyarakat dan memberikan alternatif pemecahan masalah dengan tetap ada ditangan kelompok masyarakat sendiri.

2. Fasilitator
Sebagai seorang “fasilitator”, pendamping harus mampu memfasilitasi terjadinya proses dinamis dalam pengembangan masyarakat menuju pada perubahan yang lebih baik. Dalam perannya inilah seorang pendamping sering disebut sebagai process provider. Sebagai process provider seorang pendamping harus mampu memberikan motivasi (motivator) kepada kelompok masyarakat yang putus asa, pasrah, “nrimo”, bahkan pesimis dan apatis supaya menjadi lebih bersemangat dan berpengharapan untuk menyongsong masa depan lebih baik. Ada kalanya kelompok masyarakat mengalami stagnasi dan pasif, untuk itu pendamping harus mampu mendinamisasi (dinamisator) supaya proses transformasi dan pemberdayaan terjadi secara berdaya guna sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Pendamping juga harus mampu memfasilitasi kebutuhan kelompok dalam hubungannya dengan pihak luar. Baik dalam hal menemukan akses sumberdaya, pasar maupun dalam mempromosikankelompok agar mendapatkan pengakuan dari pihak luar. Dalam hal ini peran melakukan mediasi atau sebagai mediator (bridging) terjadi.


3. Pelatih
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta terjadinya perubahan sikap dalam diri para fungsionaris maupun anggota kelompok, maka seorang pendamping juga harus mampu menjadi pelatih bagi kelompok masyarakat.

Ketiga peran tersebut diatas sebenarnya bukan peran yang berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan satu kesatuan, dimana satu dengan yang lain akan saling berkaitan dan mendukung. Sebagai contoh : sebagai seorang pelatih, seorang pendamping memiliki keterbatasan kemampuan dalam hal pelatihan teknis (seperti : cara membuat tahu atau barang barang kerajinan). Untuk itu pendamping harus tetap mengupayakan pelatih dibidang tersebut dengan jalan mengfungsikan peran yang lain yaitu sebagai fasilitator untuk menghubungkan atau mencari orang lain yang dapat memberikan pelatihan teknis tersebut. Dengan demikian tidak harus semuanya dia sendiri yang melakukan.

Untuk mendukung ketiga peran tersebut diatas, seorang pendamping dituntut memiliki beberapa keterampilan pokok, yaitu :
1. Berkomunikasi dua arah (horisontal)
Bila kota konsisten dengan pengertian pendampingan seperti telah diuraikan sebelumnya, maka dalam berkomunikasi harus dua arah dan horisontal. Hal ini ditekankan guna menjaga hubungan yang sejajar antara pendamping dengan kelompok, hubungan antara subyek dengan subyek bukan subyek dengan obyek.

2. Beradaptasi (penyesuaian diri)
Kemampuan beradaptasi ini hendaknya dilihat bukan hanya secara sepihak dalam arti pendamping harus mampu menyesuaikandiri dengan gaya hidup adat atau kebiasaan masyarakat. Tetapi juga kemampuan untuk mengajak masyarakat menerima hal-hal bari diluar gaya hidup atau kebiasaan mereka selama ini. Kesalahan selama ini pendamping yang selalu bisa beradaptasi terhadap masyarakat, tetapi apalah artinya pendamping yang bisa melakukan penyesuaian diri tetapi gagal membawa kelompok masyarakatnya menyesuaikan terhadap perubahan yang dihadapi.

3. Studi dan Analisis Sosial
Seorang pendamping harus dapat memahami dinamika dan realita sosial yang dihadapi masyarakat. Disisi lain tujuan pendamping adalah kemandirian kelompok masyarakat dengan pendekatan dan peningkatan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu maka seorang pendamping dituntut untuk selalu mengasah kemampuannya dalam melihat dan menganalisis kondisi sosial akurat dan tepat seperti kemiskinan, ketergantungan dan keterkaitan proses sosial baik pada tingkat mikro maupun makro.

4. Menangani ketegangan dan konflik
Menangani ketegangan dan konflik disini bukan hanya yang terjadi didalam kelompok masyarakat, tetapi juga menyangkut yang diluar kelompok. Sebab tugas sependamping dengan masyarakat menyangkut dua kepentingan yang berbeda. Mereka yang menolak perubahan atau dirugikan oleh inisiatif mandiri masyarakat, akan memilih pendamping sebagai target serangan.
Contoh : keterikatan antara masyarakat dengan tengkulak/pengijon. Maka kemandirian masyarakat sebagai dampak dari proses pendampingan akan dilihat sebagai ancaman terhadap pekerjaan mereka. Oleh karena itu pendamping akan dilihat sebagai musuh oleh para tengkulak/pengijon tersebut.

5. Belajar secara terus menerus
Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi pendamping (apalagi yang ada didaerah pedalaman) untuk dapat belajar terus menerus. Dalih keterbatasan dana, transportasi dan sumber belajar akan menjadi alasan yang sah padahal kemampuan seorang pendamping tidak akan cukup bila hanya mendasarkan pada pelatihan awal sebagai persiapan sebagai pendamping. Bila menyadari bahwa kelompok masyarakat pun mengalami perubahan dan perkembangan, jelas banyak kemampuan pendamping bila tidak dikembangkan tidak akan mampu mengikuti perkembangan kelompoknya. Sumber belajar bagi pendamping hendaknya dilihat bukan hanya sebatas pelatihan dan buku, tetapi interaksi dengan berbagai pihakpun akan dapat dijadikan sumber belajar yang efektif.

6. Menghapuskan diri
Kemampuan menghapuskan diri menjadi yang paling menantang bagi seorang pendamping bukan karena sulit untuk dilakukan, tetapi lebih karena adanya hambatan psikologis. Seorang pendamping dengan bangganya akan menceritakan bagaimana kelompok masyarakat “menangis” dan merasa kehilangan ketika ia mengakhiri tugasnya sebagi pendamping disana. “Kalau Bapak pergi siapa lagi yang akan mendapingi kami ?” Pendamping akan merasa kecewa atau gagal bila kelompok masyarakat mengatakan : “terima kasih Pak atas bantuannya selama ini, kami sekarang tidak perlu bantuan Bapak lagi, kami sudah bisa membangun kampung sendiri”. Padahal keberhasilan dalam proses pendampingan ialah ketika kelompok masyarakat yang didampingi telah mandiri dan mempunyai pendamping yang berasal dari mereka sendiri untuk melakukan proses pendampingan selanjutnya.

Pengetahuan yang harus dikuasai  sebagai pendamping?
1. Memahami isu-isu ketenagakerjaan yang ada dilokasi penguasa
2. Memahami kondisi social budaya masyarakat dilokasi penugasan seperti struktur masyarakat, mata pencarian, norma, adatistiadat, dst.
3. Memahami teknik wawancara dan publik speaking,
4. Memahami manajemen usaha kecil, seperti administrasi keuangan sederhana, perencanaan biaya laba rugi, teknik pemasaran, perencanaan produksi, dst.
5. Memahami konsep pemberdayaan masyarakat (Integrity Community Development).
6. Mampu mengoperasikan komputer dan jaringan internet.
7. Memahami teknik evaluasi dan penyusunan laporan.

Masyarakat memandang sosok pendamping sebagai “orang serba tahu”, peran ini memang tidaklah mudah dilakukan, namun dengan keyakinan mereka yang teguh yaitu teach by showing, learn by doing (mengajar sambil memperagakan, belajar sambil bekerja), maka apa yang mereka kerjakan untuk masyarakat merupakan kepuasan, pengalaman spiritual dan bekerja tersendiri.

Berbagai pengalaman program pemberdayaan melalui pendampingan komunitas pelaku usaha mikro dan kecil atau komunitas tidak berdaya lainnya yang telah dilakukan dompet duafa, membuktikan bahwa dengan peran seorang pendamping, pelaksanaan program dapat berlangsung sesuai dengan tujuan, tepat sasaran, transparan, akuntable dan memberi dampak langsung secara berkelanjutan bagi komunitas yang diberdayakan.

Seorang pendamping adalah pemeran kunci didalam pengembangan masyarakat. Tugas utama seorang pendamping adalah mengembangkan kapasitas masyarakat sehingga mampu mengorganisir diri dan menentukan sendiri upaya - upaya yang diperlukan dalam memperbaiki kehidupan mereka. Pendamping bekerja bersama - sama dengan masyarakat untuk membangun kepercayaan diri mereka terhadap kemampuan dan potensi yang sebenarnya mereka miliki.

Pada dasarnya pendamping memiliki tiga peran dasar yaitu :
1. Penasehat Kelompok
Pendamping memberikan berbagai masukan dan pertimbangan yang diperlukan oleh kelompok dalam menghadapi masalah. Pendamping tidak memutuskan apa yang perlu dilakukan, akan tetapi kelompoklah yang nantinya membuat keputusan.

2. Trainer Participatoris
Pendamping memberikan berbagai kemampuan dasar yang diperlukan oleh kelompok seperti mengelola rapat, pembukuan, administrasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan sebagainya.

3. Link Person
Peran pendamping adalah menjadi penghubung masyarakat dengan berbagai lembaga yang terkait dan diperlukan bagi pengembangan kelompok.

Permasalahan yang muncul dalam program pendampingan adalah berapa lama program pendampingan dijalankan. Program pendampingan dapat dinilai sebagai rule atau discretion. Dengan cara ini maka target dan tujuan dapat dicapai pada waktunya bahkan dapat dipercepat.

Apabila kegiatan pendampingan sebagai rule maka kegiatan tersebut harus dilakukan oleh institusi yang memang lebih siap dan dilaksanakan secara terus menerus hingga tujuannya dapat tercapai, sebaliknya apabila sebagai discretion maka kegiatan pendampingan hanya merupakan suatu kebijakan penyela terhadap  kebijakan lain yang memiliki dimensi temporal yang lebih panjang. Sebaiknya pendampingan adalah suatu rule, karena pendampingan memang harus dilakukan terus menerus hingga tujuannya tercapai.

Kegiatan pendampingan perlu memiliki tujuan dan sasaran yang jelas yang merupakan sesuatu yang dapat diukur. Kegiatan pencapaian tujuan dan sasaran akan lebih terarah apabila dirumuskan secara berjenjang dan bertahap dengan cara ini program pendampingan dapat dimonitor dan dievaluasi apakah memiliki kemajuan  atau stagnan dan tidak menunjukan adanya dampak yang berarti.

Menjadi seorang pendamping bukanlah merupakan suatu tugas yang mudah untuk menjadi seorang pendamping, persyaratan yang harus dimiliki adalah :
1. Memiliki kompetensi dan kapasitas kognitif atau pengetahuan yang dalam dan luas dibidangnya.
2. Memiliki komitmen, profesional, motivasi, serta kematangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Memiliki kemauan yang sangat kuat untuk membagi apa yang dianggapnya baik bagi sesamanya.
4. Memiliki kemauan dalam mengumpulkan data, menganalisis dan identifikasi masalah, baik sendiri maupun bersama-sama masyarakat yang didampingi.
5. Memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi atau membangun hubungan dengan setiap keluarga.
6. Memiliki kemampuan berorganisasi dan mengembangkan kelembagaan.

Sosok pendamping “idaman” yang dibutuhkan ditengah komunitas adalah seorang ahli, yang memiliki bekal kerelawanan dan pengalaman luas dalam memfasilitasi kegiatan pendampingan masyarakat. Pendamping sebagai seorang pengorganisir dan fasilitator ditengah komunitas dituntut untuk mampu menjalankan peran - peran yang bersifat :
1. Fasilitatif (fasilitatife role),
Yaitu seorang pendamping mampu mengembangkan peran – peran : animasi (peleburan diri ke masyarakat), mediasi, negosiasi, mengembangkan mufakat, fasilitasi kelompok, pendayagunaan keterampilan dan sumber daya serta pengorganisasian kegiatan agar dapat berjalan sesuai rencana, teratur dan sistematik pada peran animasi, pendamping harus mampu memberikan inspirasi, menumbuhkan minat, mengaktivasi dan memotivasi kelompok untuk melakukan tindakan nyata, misalnya pertemuan kelompok menumbuhkan usaha bersama  secara partisipatif, menumbuhkan lembaga lokal ditengah komunitas dan sebagainya.

2. Edukatif (educational role),
Yaitu peran pendamping untuk memberikan masukan positif dan direktif dalam hal meningkatkan kesadaran kelompok untuk memandang jauh kedepan dan mampu membuat perubahan, memberikan informasi untuk memperluas wawasan kelompok, mempertentangkan kelompok untuk membangun creativitas dan semangat untuk maju, melatih formal dan informal sesuai kebutuhan kelompok dampingan.

3. Representatif (Representatif Role),
Yaitu peran perantara/perwakilan yang dilakukan pendamping saat berinteraksi dengan pihak luar baik atas nama individu, kelompok atau komunitas dampingan, misalnya dalam menyelesaikan konflik dengan pihak luar, melakukan negosiasi pencairan sumber daya, mengakses pasar dan membentuk jaringan pemasaran.

4. Teknis, yaitu peran yang mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat teknis antara lain mengelola dinamika kelompok, menganalisa perusahaan sosial, menganalisa usaha, berkomunikasi memberi konsultasi, menjalin relasi dengan stakeholder dan mengatur administrasi keuangan kelompok dan sebagainya.

 

`Pelaksanaan Pendampingan
Dalam melaksanakan kegiatan pendampingan tugas - tugas yang harus dicapai oleh pendamping adalah :
1. Mendorong motivasi dan partisipasi kelompok masyarakat dalam pengembangan kelembagaan masyarakat. Dalam kegiatan ini pendamping dapat memfasilitasi pelaksanaan diskusi antar anggota kelompok. Fungsi pendampingan dalam hal ini adalah menggerakkan disuksi sehingga aspirasi setiap anggota dapat terpenuhi.

2. Memperkuat sistem administrasi kelompok. Pada umumnya setia kelompok memiliki pencatatan keuangan dan keangotaan secara sederhana. Berdasarkan sistem administrasi yang ada dikelompok pendamping dapat secara bertahap melakukan program pembaharuan administrasi sehingga kelompok memiliki sistem administrasi yang standar bagi keperluan yang lebih luas. Untuk mewujudkan hal ini maka pendamping dan pengurus perlu melakukan disuksi dan perbaikan sistem administrasi secara bertahap.

3. Mendampingi masyarakat menyusun rencana usaha kelompok. Usaha kelompok ini bersifat dinamis, karena itu secara periodik pendamping dan pengurus melakukan evaluasi atas rencana dan pelaksanaan rencana usaha kelompok atas pelaksanaan evaluasi tersebut. Kelompok dapat melakukan peninjauan kembali terhadap usahanya dengan membuat Rencana Usaha Kelompok (RUK) yang baru. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum kelompok turun kelapangan bersama - sama pendamping membuat Rencana Usaha Kelompok, apa yang akan diperlukan kelompok dan apa yang diinginkan oleh kelompok.

4. Memfasilitasi pelaksanaan pelatihan. pendamping mengagendakan kegiatan pelatihan yang diperlukan bagi kelompok mencakup pelatihan administrasi, pelatihan usaha/keterampilan, pelatihan manajemen organisasi dan lain - lain. Agenda tersebut bagi lembaga - lembaga yang berkompeten, beberapa aspek dari agenda tersebut dapat merupakan bagian dari aktivitas pendampingan dalam bentuk “On Hand Training”.

5. Mengembangkan kemitraan bisnis dan pemasaran. Kegiatan pendampingan diharapkan dapat mengupayakan adanya jaringan kerjasama kemitraan bisnis dan pemasaran dengan pihak swasta, instansi terkait dan perbankan. Peran tenaga pendamping adalah membuka ruang bagi kerjasama antara kelompok dengan lembaga - lembaga lain.

6. Menumbuhkembangkan kelompok usaha atau unit bersama diantara kelompok. Bersama - sama dengan kelompok menjadikan kelompok tersebut menjadi suatu usaha/unit usaha yang dapat berkembang dan dapat memberikan pelayanan yang efektif bagi pengembangan usaha anggota. Dalam hal ini kelompok diantarkan pada suatu kegiatan usaha yang dapat memfasilitasi pengembangan usaha anggota.

7. Membuat laporan evaluasi. Pendamping harus membuat laporan kegiatan dalam bentuk laporan kegiatan mingguan/bulanan dan hasil - hasil yang dicapai atau rencana lebih jauh  dari kegiatan tersebut.

    
Indikator Keberhasilan Pendamping
Indikator adalah alat ukur yang dapat menunjukan perbandingan kecendrungan atau perkembangan suatu hal yang menjadi pokok perhatian. Syarat indikator yang baik antara lain mampu mengukur dengan baik, menggambarkan kondisi sebenarnya, hanya mengukur perubahan yang dimaksud dan mudah dilakukan.

Indikator keberhasilan pendamping mencakup aspek - aspek yang akan dinilai baik kuantitas dan kualitas yang ditetapkan untuk dicapai dalam periode tertentu serta langkah - langkah yang disusun untuk periode berikutnya setelah satu periode pendampingan yang telah disusun dan dievaluasi hasil kinerjanya.

Penetapan indikator dengan penilaian bobot tertentu dilakukan bersama antara pendamping dengan manajemen pelaksanaan program sejak masa pendampingan dimulai. Dengan kata lain indikator keberhasilan pendampingan didasarkan pada kesepakatan - kesepakatan jobdesk yang diikuti dengan penilaian performa kinerja meliputi aspek hasil dan perilaku yang berpedoman pada KPI (Key Performance Indicators) yang telah ditentukan sebelumnya.
 Contoh beberapa indikator keberhasilan pendampingan antara lain  :
1. Memperkuat kelembagaan komunitas, indikatornya :
a. Konsolidasi struktur internal untuk pembenahan struktur organisasi lembaga;
b. Penerbitan dokumentasi kelompok, pembunuhan dan laporan organisasi dan usaha;
c. Optimalisasi pelayanan kepada komunitas sasaran/kelompok dengan melakukan pembenahan sistem/norma - norma organisasi; dan
d. Timbulnya peran/figure tertentu (kader lokal yang menjadi panutan kelompok masyarakat).

2. Pengembangan jaringan usaha/kemitraan, indikatornya :
a. Konsolidasi jaringan internal;
b. Kejelasan informasi dan nilai hubungan usaha dengan meningkatkan kemampuan analisa terhadap situasi usaha;
c. Melakukan diversifikasi usaha; dan
d. Terjadinya sinergi dalam hubungan kerjasama dengan pihak - pihak terkait dalam sistem bisnis usaha anggota/kelompok.

3. Menumbuh kembangkan sumber pendapatan kelompok/mitra, indikatornya :
a. Terjadinya pemupukan modal usaha; dan
b. Optimalisasi penggunaan modal usaha.

4. Meningkatkan peran serta aparat dan tokoh masyarakat, indikatornya :
Terciptanya sinergitas pelaksanaan program pendampingan pada semua komponen masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan masyarakat  dengan memperkuat kelembagaan masyarakat agar mampu menunjukan kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan. Agar program pemberdayaan berjalan dengan optimal, maka diperlukan pendampingan yang komprehensif.

Dengan demikian kemampuan seorang pendamping untuk menciptakan kader - kader pendamping yang berasal dari kelompok masyarakat itu sendiri merupakan indikator utama keberhasilannya sebagai pendamping, jadi bukan sebaliknya. Sebab proses pendampingan bukan untuk menciptakan ketergantungan baru bagi kelompok masyarakat.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang baik, pada umumnya mensyaratkan adanya proses pendampingan. Ini menjadi penting karena obyek pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat dengan dinamikanya yang beragam. Fungsi pendampingan adalah untuk memfasilitasi, memotivasi masyarakat serta mengawal agar kegiatan pemberdayaan sesuai dengan maksud dan tujuan yang dikehendaki. Dalam rangka memandu pelaksanaan bimbingan usaha sektor informal dilaksanakan tugas pendampingan.

 

 

Berita Terkait