Sabtu, 18 September 2021 | 23:42:38 WIB

Mendorong TKS Sebagai Pelopor Kewirausahaan

Minggu, 23 Mei 2021 | 22:41 WIB
Mendorong TKS Sebagai Pelopor Kewirausahaan

(FOTO : TRIBUNNEWS.COM/LINDO)

Oleh : Bery Komarudzaman, SH - Pengantar Kerja Ahli Madya Kemnaker


Pendayagunaan TKS (Tenaga Kerja Sukarela) bukanlah kegiatan baru, karena tumbuh dan berkembang dibawah binaan Kementerian Ketenagakerjaan. Kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun, 1968, dibawah koordinasi suatu badan lintas kementerian dengan nama BUTSI (Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia).

Pendayagunaan TKS sebagai pendamping kewirausahaan dilaksanakan untuk menggalang angkatan kerja sarjana dalam membantu menciptakan dan mengembangkan usaha produktif. Sarjana bisa mengembangkan pengetahuan keterampilan untuk masyarakat dan dikembangkan sebagai pendorong perusahaan (agenf of change), utamanya dalam membantu mengembangkan usaha ekonomi produktif dan berkelanjutan. Pada akhirnya pasca pendampingan dimasyarakat, angkatan kerja muda diajak untuk belajar menjadi pemimpin, belajar berwirausaha dan mandiri.

Selain itu, pendayagunaan TKS juga merupakan ajang pemagangan (praktek kerja lapangan) dengan harapan melalui kegiatan ini pengetahuan dan pengalaman kerja TKS, khususnya dibidang kewirausahaan  dan pemberdayaan  masyarakat dapat bertambah. Ada tiga keuntungan yang diharapkan dari kegiatan pendayagunaan TKS, yaitu berkurangnya pengangguran sarjana, meningkatnya pengetahuan dan pengalaman kerja TKS serta berkembangnya usaha kelompok yang didampingi.

1. Mencetak TKS jadi wirausaha
Tujuan utama program pendayagunaan TKS ini tidak sebatas menjadikan sarjana sebagai pendamping kelompok usaha masyarakat, TKS juga diharapkan mampu belajar dan memetik pengalaman berharga dari aktifitas pendampingan yang mereka jalankan, sehingga pasca mengikuti program TKS dapat merintis usaha secara mandiri.  TKS juga harus sudah memulai embrio usahanya sendiri, fokus pada bakat yang dimiliki dan menggali potensi ekonomi yang ada disekitarnya dengan melihat contoh para pengusaha yang terlebih dahulu sukses akan membentuk jiwa kewirausahaan. Selama mengikuti maupun purna, seorang TKS diharapkan memiliki :
a. Motivasi dan minat kewirausaha,
b. Rintisan usaha,
c. Keterkaitan usaha dengan kelompok dampingan, dan
d. Akses terahdap sumber permodalan, pemasaran teknologi, dll.

Oleh karena itu TKS yang mau dan minat menjadi seorang wirausaha harus sudah mulai merintis usaha, mengikuti program TKS merupakan langkah awal yang tepat untuk menjadi wirausaha yang sukses. Jika dahulu kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir dan diasah melalui pengalaman langsung dilapangan paradigma tersebut saat ini telah bergeser, kewirausahaan telah menjadi suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya.Sebagai suatu disiplin ilmu, maka ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan, sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan (entrepreneur). Bahkan untuk menjadi wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup tetap juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Tugas seorang wirausaha cukup banyak antara lain pengambil keputusan, kepemimpinan teknis, kepemimpinan organisatoris dan komersial, penyediaan modal, dll.

Dengan berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki selama mengikuti kuliah ditambah dengan belajar dari pengalaman usaha mikro yang telah berhasil, maka para TKS dengan usia yang masih relatif muda berpeluang besar untuk menjadi wirausaha yang sukses. Untuk bisa melalui usaha tersebut seorang TKS tinggal ada kemauan untuk melakukan tindakan nyata.

 

2. Cara Menjadi Wirausaha
Menjadi wirausaha  berarti harus memiliki kemampuan menemukan dan mendayagunakan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memperoleh laba atau hasil dari peluang tersebut. Wirausaha sekaligus merupakan pemimpin dimana harus ditunjukan sifat-sifat kepemimpinan dalam melaksanakan sebagian besar kegiatan perusahaan. Juga harus mampu mengambil resiko yang telah diperhitungkan dengan matang dan menyukai tantangan dengan resiko yang masuk akal. Wirausaha harus percaya diri dan mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat bahkan kemampuan mengambil keputusan inilah yang menjadi khas para wirausaha. Untuk dapat berhasil dalam jangka panjang wirausaha harus mampu meluangkan waktunya untuk belajar. Wirausaha harus memberi waktu yang cukup untuk merencanakan kegiatan-kegiatan usaha.

Sebagai sikap dasar atau sampai tingkat tertentu, keberhasilan sebagai wirausaha tergantung pada kesediaan untuk bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan harus belajar banyak tentang diri sendiri, jika mau mencapai tujuan sesuai dengan apa yang paling diinginkan atau dicita-citakan dalam hidup ini. Kekuatan datang dari tindakan-tindakan sendiri dan bukan dari tindakan orang lain.

Meskipun resiko kegagalan selalu ada, para wirausaha mengambil risiko dengan jalan menerima tanggung jawab atas tindakan mereka. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar dan hampir semua wirausaha yang sukses biasanya harus melalui jalan panjang yang penuh dengan suka duka serta mengalami banyak kegagalan terlebih dahulu. Belajar dari pengalaman masa lalu akan membantu menyalurkan kegiatan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Keberhasilan merupakan buah dari usaha yang tidak mengenal lelah dan putus asa.

Kejarlah tujuan dan sasaran sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki terimalah sebagaimana adanya dan cobalah tekankan pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki dan kurangi atau hindari kelemahan yang dimiliki sebagai wirausaha, sebagai pengusaha kecil dan juga sebagai manusia. Berorientasi kepada tujuan akan mendorong munculnya sifat yang paling baik, yang biasanya disebut “tenaga simpanan” atau “bakat terpendam”.

Pada langkah awal janganlah mengejar kesempurnaan, hasil apa adanya yang didapat diterima lebih berarti daripada hasil-hasil yang sempurna dengan segala biaya (berapapun biayanya) atau at all cost yang hanya akan menghambat perkembangan dan pertumbuhan pribadi. Belajarlah dari pengalaman dan harus selalu sadar akan cara-cara baru untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas dalam merencanakan masa depan bersikaplah realistis, pengalaman masa lalu seharusnya dapat membantu untuk memahami lebih baik mengenai situasi yang sedang berjalan saat ini.


3. Tekad menjadi wirausaha
Harus disadari bahwa usaha adalah sesuatu yang bersifat tidak pasti, artinya setiap kita melakukan usaha pasti akan menghadapi dua kemungkinan, yaitu berhasil atau gagal, karena itu kita harus siap pula mengantisipasinya untuk melakukan tindakan cepat dan tepat, bila berhasil agar tidak menimbulkan kelabilan jiwa. Dengan menghambur-hamburkan pengeluaran yang tidak sesuai dengan tujuan usaha tersebut, maka harus berhemat dengan membatasi pengeluaran yang tidak perlu. Kesemuanya itu merupakan wujud rasa syukur kepada sang maha penyayang dan pemurah yang telah memberikan nikmat keberhasilan usaha kita.

Begitupula sebaliknya apabila usaha mengalami kegagaln, ini merupakan pelajaran dan pengalaman paling berharga dalam usaha. Dengan kegagalan ini, maka orang akan lebih berhati-hati agar tidak melakukan/mengulangi kegagalan untuk kedua kalinya. Inikah yang disebut hikmah yang merupakan petunjuk atau hidayah yang maha mengetahui dan patut untuk diperhatikan dalam setiap melakukan usaha apapun.

Telah kita pahami bersama mengenal diri sendiri adalah langkah awal usaha, setelah kita renungkan, maka ternyata dengan mengenal diri sendiri, kita menjadi tahu bahwa diri kita keseluruhan merupakan modal usaha. Hanya saja belum semua orang menyadari, memahami dan merenungkan apa yang telah dimilikinya itu ternyata dapat dijadikan modal usaha, namun sudah barang tentu melalui proses produksi agar potensi/sumber daya itu diubah menjadi komoditi (barang dinilai ekonomis) yang laku dijual untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti bintang iklan shampo dengan modal rambutnya, penyanyi dengan modal suara, guru dengan modal ilmunya, bahkan yang nonphisik hanya dengan modal keberanian melakukan wirausaha berhasil mengeduk uang.

Akhirnya, motto orang yunani kuno yang berbunyi “ora et labora” yang berarti berusaha sambil berdoa ternyata masih sangat relevan dalam melakukan wirausaha dimasa kini maupun dimasa depan, yang tiada lain dengan berdoa agar senantiasa usaha diharapkan akan mendapatkan ridho dari yang maha pengasih.

Manusia diciptakan tuhan sebagai makhluk yang paling tinggi derajat dan martabatnya dimuka bumi ini, semakin tinggi daya akal dan daya nalar serta moral kemanusiaannya semakin dekat dengan yang maha pencipta, sehingga manusia akan berkemampuan meningkatkan kehidupan sosial maupun ekonomi dengan mudah dari ketinggian derajat dan martabatnya. Pemahaman dan kesadaran manusia sendirilah yang sering merusak dirinya karena labil, banyak mengeluh ketimbang bersyukur atas derajat dan martabat yang disandangnya.

 

 

Berita Terkait