Sabtu, 14 Desember 2019 | 18:28:47 WIB

Amien Rais Jadi Pengusul Konferensi Pers Hoaks Ratna

Jum'at, 5 April 2019 | 06:18 WIB
  • Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet menghampiri dan mencium tangan Amien Rais yang baru saja memberi kesaksian dalam sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Kamis, 4 April 2019. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, mengaku sebagai pengusul konferensi pers kepada Prabowo Subianto. Amien mengakui hal tersebut saat bersaksi dalam sidang ke tujuh kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

"Saya bilang ke Pak Prabowo, ini harus diangkat ke permukaan," kata Amien dalam persidangan terdakwa penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis 4 April 2019.

Dia mengatakan, tujuan mengangkat kabar penganiayan Ratna agar ada proses hukum. Gayung bersambut. Prabowo menerima usulan Amien sebagai rasa prihatin.

"Merasa ada kewajiban morel. Di sini dia sudah otomatis sebagai seorang pemimpin," ujar Amien.

Prabowo menggelar konferensi pers pada 2 Oktober 2018. Saat itu, Prabowo mengecam perlakuan terhadap Ratna. Namun setelah diselidiki kepolisian, Ratna nyatanya melakukan kebohongan hingga menimbulkan keonaran di masyarakat. Amien merasa kecewa.

"Saya kecewa berat. Mungkin ada kekuatan spritual, atau apa jadi pikiranya enggak logis. Menjelang subuh itu kita kaget, ada nama klinik kecantikan itu, kalau begitu kemarin enggak seperti yang kita sangka. Paginya Ratna mengaku saya telah lakukan hoaks. Lalu pak Prabowo minta maaf karena telah melakukan konpers itu," pungkasnya.

Selain Amien Rais, jaksa juga mendatangkan tiga saksi lainnya. Di antaranya Andika, Yudi Andrian, dan Eman Suherman yang merupakan demonstran Lentera Muda Indonesia dan konpers Jaringan Aktivis Lintas Generasi di Dunkin Donuts Menteng, 2 Oktober 2018 silam. Aksi demo tersebut untuk menyikapi terjadinya tindak kekerasan yang dialami oleh Ratna.

Sejauh persidangan Ratna, JPU telah memanggil 10 saksi. Tiga dari unsur kepolisian, tiga dari RS Bina Estetika tempat Ratna operasi plastik, tiga orang staf pribadi Ratna, serta Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Nanik S Deyang.

Kasus hoaks Ratna bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tak di kenal di Bandung, Jawa Barat.

Usai ramai-ramai berita itu, Ratna mengaku, berita penganiayaan terhadap dirinya bohong. Dia mengaku mukanya lebam setelah menjalani operasi plastik.

Ratna ditahan setelah ditangkap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Kamis malam, 4 Oktober 2018. Saat itu, Ratna hendak terbang ke Chile.

Akibat perbuatannya, Ratna didakwa membuat keonaran dengan menyebarkan hoaks penganiayaan. Ratna disebut sengaja membuat kegaduhan lewat cerita dan foto-foto wajah yang lebam dan bengkak yang diklaim akibat penganiayaan, meski sebetulnya karena operasi plastik.

Ia didakwa melanggar Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dia terancam hukuman 15 tahun penjara.saksi Elektronik (ITE).

MEDCOM