Rabu, 12 Mei 2021 | 18:01:55 WIB

Tiga Oknum Masyarakat Secara Terpaksa Menjual Perahu Viber Bantuan Dana Desa

Rabu, 19 Februari 2020 | 11:46 WIB
  • Foto faisal saat meninjau langsung kondisi perahu bantuan yang bersumber dari dana desa

Lindo Halteng - Pembagian Perahu Nelayan di desa Loleo kecamatan Weda selatan kabupaten halmahera tengah di nilai gagal.loleo 19/02/20.

Hal tersebut di sampaikan oleh sala satu warga bahwa sebagian perahu yang anggarannya  bersumber dari dana desa tersebut telah di jual bahkan ada yang tidak bisa di pakai karena tidak menjamin keselamatan saat berada di lautan.

Perahu bantuan ini saya takut untuk pakai di lautan karena kondisinya terlalu tipis dan lagi pula sudah ada yang rusak dan hanya di tari di samping rumah.jelasnya 

Lanjutnya bahwa jujur kami tidak bisa gunakan karena yang di kasih hanya perahunya saja dan tidak ada mesin lalu bagaimana kita buat pakai ke lautan yang jaraknya cukup jauh.

Yang saya tau bahwa perahu tersebut dalam 1 unit 22 juta sudah dengan mesinnya tapi yang desa kasih ke kami nelayan hanya perahunya saja dan tidak ada mesinnya.

Hal tersebut juga di konfirmasi ke kepala desa Loleo (Alimasri L) dia mengatakan perahu tersebut perunit 22 juta tidak termasuk mesin dan pajak 

Kades juga menambahkan sampai saat ini dirinya belum perna tau kalau ada perahu yang sudah di jual oleh masyarakat dan juga  ada yang rusak.

Di tempat terpisah pada di konfirmasi ke sekretaris desa ( Bahri ) dia mengatakan bahwa pengadaan perahu nelayan (viber) itu perunit 15 juta sudah termasuk Pajak  (PPN-PPH).

Hal tersebut juga di sampaikan salah satu masyarakat penerima bantuan viber mengatakan bagaimana tidak kami jual kalau yang di kasih hanya perahu saja.

Benar saya jual perahu bantuan pemerintah desa,karena perahu tersebut saya tidak bisa manfaatkan karena yang di kasih hanya perahu tanpa mesin jadi terpaksa saya jual buat beli mesin sensor.katanya

Di tempat terpisah ada masyarakat yang menyampaikan bahwa bahkan perahu viber ini di buat kayunya dari kami masyarakat karena kayu yang di pakai tidak berkualitas terpaksa kami sendiri yang sediakan kayunya.

Dan yang membuat heran kami saudara yusup lasendi ketua LPM dan merangkap TPK koq bisa dapat jatah perahu viber,jadi Jusup dapat untung ganda dapat honor TPK (tim pengelola kegiatan)  dan dapat perahu viber.

Untuk melengkapi hal tersebut kami pun mengkonfirmasi ke pihak pekerja viber di kediamannya di desa aer salobar dia mengatakan bahwa yang saya kerjakan hanya 6 unit perahu dan upah kerja per unit 3 juta.

Saya hanya kerja 6 unit saja dan upah kerjanya 3 juta per unit dan kalau terkait belanja bahan semuanya pak kades yang belanja saya hanya tau kerja,dan waktu itu pak kades perna suruh saya tanda tangan kwitansi kosong saya tidak tau apa tujuannya pak kades suruh saya tanda tangan itu.jelasnya.

Guna melengkapi pemberitaan kami mendatangi kepala desa dan menanyakan terkait informasi dari pekerja perahu viber tersebut,dia kades menyampaikan bahwa dirinya tidak perna melakukan belanja sendiri.

Saya tidak perna belanja bahan sendiri,karena kalau belanja selalu di lakukan oleh tim pengelola kegiatan (TPK) dan tukang yang belanja,dan saya hanya mendampingi.kata kades

Kades juga menambahkan bahwa dia tidak perna menyuruh saudara Ale ( tukang ) untuk menandatangani kwitansi kosong. (MFE)