Rabu, 20 Oktober 2021 | 05:26:40 WIB

Bahaya COVID-19, Kepala BI Malut Kaget Lihat Suasana Warga Kota Ternate Jelang Buka Puasa

Selasa, 28 April 2020 | 22:42 WIB
  • Suasana aktifitas warga menjelang buka puasa di pasar regenis kota Ternate, Maluku Utara, Senin (28/04/2020). (Foto: Faisal/Lindo)

TERNATE, LINDO - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara Gatot Miftahul Manan mengaku Prihatin dengan ulah sebagian warga kota Ternate yang seolah merasa kebal dengan virus corona atau Covid-19.

Gatot menyebut pemandangan menjelang buka puasa di Kota Ternate sungguh mengerikan. 

“Lihat saja, setiap jelang buka puasa pasar-pasar dan sejumlah lokasi penjual takjil masih ramai dikunjungi seperti tak ada peristiwa apa-apa”, ujarnya, Senin (27/4/2020).

“Wabah Covid yang memuncak tidak membuat masyarakat takut. Kesibukan transaksi takjil Ramadhan terlihat luar biasa ramai. Penjual berkerumun. Pembeli juga berkerumun. Himbauan saling berjarak dianggap angin lalu,” tulis Gatot dalam pesan singkatnya seperti dilansir dari TIMES Indonesia,

Gator menyesalkan sikap masyarakat yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk memakai masker, padahal ada masker yang harganya sangat terjangkau. Namun kata dia, orang memilih gorengan sebagai prioritas, kesadaran kandas di titik nol.

Menurutnya, masih ada warga memikirkan hasil sesaat. Mumpung waktu puasa, kesempatan di bulan yang berkah. Tiap orang bebas berjualan, bermodal alat masak di rumah menghasilkan aneka kue dan penganan. Cara sederhana mendapatkan rejeki.

Namun, kerumunan yang dihasilkan mengerikan. Keramaian tampak dimana-mana. Kemacetan sepanjang Pasar Higenis hingga Duafa Center.

“Bom mematikan sedang berserakan dimana-mana,”sebut Gatot 

Ia khawatir, Maluku Utara sedang meratapi masyarakatnya sendiri. Sebegitu abai untuk keselamatan anak istri, sanak famili, dan tetangga.

Kekhawatiran Gatot bukan tanpa alasan, pasien positif covid melonjak beberapa hari terakhir. Dua hari lalu (Jumat 24 April 2020) pasien positif naik dua kali lipat dari 8 orang menjadi 12. Selang dua hari (Minggu 26 April 2020) kembali naik dua kali lipat menjadi 26 positif covid. 

“Pasien tersebut sebelumnya beredar di kesibukan kota. Bom waktu semakin tersebar. Tidak tahu lagi siapa terpapar. Carrier pembawa covid bisa tanpa gejala – OTG.  Mereka menebar covid di berbagai kawasan. Masif menyebar di kerumunan,” sesalnya

Gatot menyarankan, transaksi jual beli harus ada yang mengatur. Penjualan takjil dilarang di tempat umum, hal itu kata dia bukan melarang orang mencari nafkah.  Namun dilarang menebarkan bom mematikan di kerumunan. 

“Penjualan diperbolehkan di rumah masing-masing secara online. Pembeli dilarang membeli langsung.  Semua transaksi hanya lewat online. Tentu saja hanya penjual dengan smartphone bisa melayani pesanan,” ujarnya

Ia mengakui, tak semua penjual memiliki smartphone, untuk itu perlu diakomodasi. Mereka cukup menjadi pemasok pada penjual yang diberbolehkan. 

Lanjut Gatoto, peran RT/RW sangat besar. Pengaturan penjualan diserahkan tiap RT/RW. Pengurus RT/RW melibatkan pemuda untuk mengelola penjualan. Data penjual dan petugas delivery pengiriman diinfromasikan.  Lengkap dengan nomor hape yg bisa dihubungi. 

“Pembelian dilarang secara langsung. Anak-anak muda diberikan tanggung jawab mengelola transaksi online,”cetusnya

Kata Gatot sudah waktunya yang muda berkiprah sesuai bidang kemampuan. Pengaturan dilakukan sedemikian rupa tanpa kerumunan. 

“Jangan sampai semua menjadi sangat terlambat, Kecerobohan akan memanen simalakama. Duka yang tak termaafkan,” tandas Gatot 

“Ketika banyak pihak berteriak lantang. Sampai suara parau tak bertenaga. Namun hanya didengar sayup lalu. Sebelum serba terlambat. Mari mengatur untuk yang lebih sehat dan aman untuk kita semua,” Gatot mengakhiri catatannya. 

(ad/times Indonesia)