Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:58:31 WIB

Sopir Ambulans Mengaku Sedih Tiap Hari Lihat Ada Jenazah COVID-19

Rabu, 20 Mei 2020 | 10:55 WIB
  • Jumlah jenazah yang dimakamkan dengan protap COVID-19 setiap harinya bisa mencapai puluhan. (Foto: Times/Lindo)

JAKARTA, LINDO - Sopir mobil ambulans milik Pemprov DKI Jakarta, Muhammad Nursyamsurya mengaku sedih melihat kelakuan warga yang cuek di saat pandemik virus corona. Padahal, virus corona ganas dan bisa menular ke orang lain dengan cepat. 

Curahatan hati itu disampaikan Nursyamsurya ketika berbincang di program Mata Najwa yang tayang di stasiun Trans 7  pada Rabu malam (15/4/2020). Saking gemasnya melihat kelakuan cuek warga di DKI Jakarta, Nursyamsurya mengaku ingin naik ke truk tronton sambil berteriak ke publik. 

"Kalian tahu berapa banyak jenazah yang kami makamkan setiap hari. Pasti kalian akan sedih karena jenazah itu tidak ada yang diantar, gak ada yang didoakan, langsung masuk ke liang lahat. Saya minta tolong ke masyarakat agar tetap di rumah!" ungkap Nursyamsurya semalam dengan kata-kata lirih. 

Ia mengaku tak habis pikir, mengapa di saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) masih berlangsung, tetapi masih ditemukan titik-titik jalanan di Jakarta yang macet. Bahkan, kemacetan masih terjadi hingga dini hari. 

"Kehidupan seperti ini gak masuk akal. Masak kehidupan harus seperti ini? Kan harus sosialisasi," tutur dia sambil meneteskan air mata. 

Nursyamsurya ingin kehidupan kembali normal. Apalagi bulan Ramadan ini, Ia ingin menunaikan salat tarawih berjemaah. 

Tetapi, aktivitas itu kemungkinan besar tidak bisa ia lakukan, karena sibuk membantu mengantarkan jenazah pasien COVID-19 untuk dimakamkan. Lalu, berapa banyak jumlah jenazah yang dimakamkan di dua tempat pemakaman yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Nursyamsurya mengaku tidak ingat dengan pasti berapa jumlah jenazah pasien COVID-19 yang ia antar ke tempat pemakaman untuk dikebumikan. Tetapi, jumlahnya mencapai puluhan setiap hari. 

"Kami itu sekarang terima telepon setiap hari dan frekuensi yang dimakamkan itu semakin banyak. Setiap hari kami bisa memakamkan puluhan jenazah," tutur dia. 

Ia menjelaskan dalam proses pemakaman, masing-masing orang sudah mendapat tugas. Ada yang mengantarkan jenazah, menurunkan peti mati ke liang lahat dan menggali liang kubur. Semua individu yang mengerjakan proses itu mengenakan APD (Alat Pelindung Diri). 

Semakin meningkatnya jumlah jenazah akibat COVID-19 membuat Nursyamsurya sedih. Sebab, artinya publik tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah. 

Sementara, ia sudah memakamkan jenazah dengan vonis penyakit menular termasuk COVID-19 sejak (6/3/2020) lalu. Ada dua lokasi pemakaman yang ditunjuk oleh Pemprov DKI Jakarta untuk memakamkan pasien COVID-19 yakni Pondok Rangon dan Tegal Alur. 

Kenaikan orang yang meninggal akibat COVID-19 sesungguhnya sudah tercium sejak Maret lalu. Ketika itu Pemprov DKI Jakarta kerap mendapatkan permintaan dari rumah sakit agar memakamkan jenazah dengan menggunakan protap COVID-19. Artinya, jenazah harus segera dimakamkan, dibungkus menggunakan plastik, dimasukan ke dalam peti dan petugas yang memakamkan harus mengenakan APD.

Tetapi, data kematian akibat COVID-19 yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan tidak sesuai dengan punya Pemprov DKI Jakarta. Pada Maret 2020 diketahui jumlah pelayanan dan permintaan pemakaman di Jakarta mencapai angka 4.377.

Angka pelayanan dan permintaan pemakaman Maret 2020 yang tercatat adalah tertinggi sejak dua tahun terakhir. Misalnya saja, rata-rata angka pada tahun 2018 dan 2019 yaitu, 2.774 dan 2.745.

Pada rentang waktu di tahun 2018 dan 2019, tidak ada jumlah pelayanan serta permintaan pemakaman yang mencapai angka pada Maret 2020.

Sementara, per (2/4) lalu, TPU Pondok Rangon mengalami kenaikan jumlah orang yang dimakamkan. Pada periode 6-31 Maret, ada 151 jenazah yang dimakamkan di sana. Sedangkan, pada periode 1-3 April ada 66 jenazah yang dikebumikan. 

Ketika dikonfirmasi oleh pada (5/4) lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak berani membenarkan bahwa semua jenazah itu sudah terinfeksi COVID-19. Tetapi, kenaikan jumlah jenazah yang dimakamkan memang terjadi di tengah wabah COVID-19. 

"Karena belum ada testing maka kita tidak bisa mengkonfirmasi bahwa peningkatan angka itu karena wabah COVID-19," ungkap Anies melalui pesan pendek. 

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih memastikan jenazah pasien COVID-19 yang sudah diproses sesuai dengan protokol kesehatan, maka tidak akan menularkan virus corona. Protokol yang dimaksud adalah jenazah disemprot cairan disinfektan, dibungkus dengan menggunakan plastik dan dimasukan ke dalam peti. 

"Selama jenazah itu tidak dibuka dan langsung dimakamkan maka sudah tidak berisiko lagi terhadap penularan, karena penularan COVID-19 dilakukan dengan kontak dekat antara orang yang sudah terinfeksi dengan orang lain dalam jarak yang dekat," ungkap dr. Daeng di program Mata Najwa. 

Ketika melakukan kontak lalu ada percikan yang disebarkan karena batuk, bersin atau bicara, maka bisa menularkan ke orang lain. Orang yang meninggal memang tidak akan melakukan itu. 

"Tetapi, menyentuh jenazah (pasien COVID-19) juga tidak boleh karena penularan bisa terjadi dari sentuhan tangan ke benda-benda termasuk jenazah," kata dia lagi. 

CAPING/AD