Jumat, 30 Juli 2021 | 01:47:53 WIB

"Serangan Fajar" Menjadi Penentu Kemenangan Dalam Pemilu dan Pemilukada

Rabu, 2 Desember 2020 | 16:49 WIB
  • Ilustrasi - Pemilukada 2020. (Foto: Kmp/Lindo)

LINDO - Pemilihan Umum (Pemilu) sudah menjadi kegiatan rutin di Indonesia setiap lima tahun sekali sebagai negara demokrasi, baik itu dalam tingkat pemilihan Presiden, DPR, Gubernur, Bupati atau Wali kota, bahkan pada tingkat kepala desa. Pemilu sebagai acara pesta demokrasi di Indonesia hakikatnya untuk menentukan pemilihan wakil-wakil rakyat untuk dijadikan pemimpin mereka.

Dalam pemilu rakyat bebas memilih calon wakilnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan sifatnya rahasia, oleh karenanya dalam pemilu rakyat harus memilih pemimpinnya dari hati nurani tanpa ada embel-embelnya.

Masa tenang dalam Pemilu maupun Pemilukada merupakan saat yang sangat menentukan bagi para calon pemimpin dan simpatisan-simpatisannya untuk melancarkan serangan politik. Bahkan, melalui jalan-jalan sesat dengan menggunakan cara "bawah tanah" (underground) dan ilegal.

Para politisi yang tergoda untuk menduduki kursi-kursi jabatan pemerintahan secara instan tentunya akan tergiur untuk menghalalkan segala cara, salah satunya dengan menggunakan "senjata" terakhir, agar mampu mencuri hak suara rakyat di masa tenang pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah. Senjata politik tersebut lebih dikenal dengan sebutan "serangan fajar".

Serangan fajar pada dasarnya adalah sebuah kampanye terselubung yang dilakukan oleh tim sukses ataupun calon wakil dari rakyat itu sendiri dengan membagikan berbagai kebutuhan pemilih, biasanya berupa uang atau sembilan bahan pokok (sembako) dan lain-lain. Serangan fajar menjadi salah satu taktik konvensional, tentunya hal ini terbukti cukup ampuh dalam menaklukkan lawan-lawannya.

Dalam konteks politik praktis, serangan fajar menjelma menjadi sebuah penyakit awal yang cukup menakutkan untuk "membunuh" secara perlahan sistem demokrasi yang dianut sebuah negera. Bagaimana tidak, serangan fajar yang dilakukan para calon pemimpin digunakan untuk membeli suara rakyat dengan iming-iming materi semata. Mulai dari memberi uang, pemberian Sembilan Bahan Pokok, dan lain sebagainya sesuai kondisi masyarakat di tempat.

Sangat miris dibayangkan, ketika kepercayaan masyarakat dapat di tukar dengan materi semata dalam pemilihan itu tentu hal tersebut akan di jadikan sasaran empuk bagi calon pemimpin yang pintar memanfaatkan situasi dan kondisi masyarakat.

Meskipun calon kandidat sudah mengetahui apa yang dilakukannya merupakan cara yang sesat. Persis prinsip pandangan, pemikiran dan praktik-praktik Machiavelli "menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan" (The end justifies the means), dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Di Provinsi Maluku Utara sendiri pemilihan kepala daerah serentak yang dilaksanakan pada tanggal 09 Desember 2020 nanti, juga akan di gelar sebanyak 8 kabupaten/kota, dan ada pasangan calon dari masing-masing kabupaten/kota, ialah kabupaten kepulauan Sula 2 kandidat, kabupaten Pulau Taliabo, 2 kandidat, kabupaten Halmahera Selatan 2 kandidat, kabupaten Halmahera Timur, 3 kandidat, kabupaten Halmahera Utara 2 kandidat, kabupaten Halmahera Barat 4 kandidat, Kota Ternate 4 kandidat, dan 2 kandidat dari Kota Tidore Kepulauan.

Hampir seluruh calon pemimpin harus melakukan politik uang atau serangan fajar, entah itu dalam bentuk uang, sembako, ataupun sejenisnya.

Pada jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan pilkada. Biasanya ada seseorang yang telah diutus untuk mendatangi rumah-rumah warga mendata setiap warga yang mau mencoblos calon tertentu. Bahkan ada yang sampai mengumpulkan foto kopi KTP dan foto copy kartu keluarga. Data tersebut akan di serahkan ke calon sebagai perhitungan berapa uang yang akan dikeluarkan nanti. Baru pada hari H uang serangan fajar tersebut di bagi-bagikan kepada calon pemilih.

Media ini mencoba menginformasikan bahwa kabupaten Halmahera Barat, kabupaten Halmahera Utara, dan Kota Ternate, bahwa di setiap desa/kelurahan, maupun di tingkat Kecamatan, pasti ada tim sukses atau pasangan calon yang maju pada pemilihan kali ini akan menghamburkan uang rupiah mereka pada simpatisan dan pendukungnya untuk meraih suara yang terbanyak. Tim sukses atau paslon lain diduga kuat akan membagikan uang kepada masyarakat. Ada yang membagikan ratusan ribu. Ada pula yang membagikan uang ke masyarakat hingga jutaan rupiah kepada satu orang pemilih.

Salah satu warga Desa Gamlenge, Kecamatan Jailolo Selatan, Ibu Eli mengatakan, dia sudah dijanjikan untuk mendapatkan uang serangan fajar dari ke empat calon. "Saya akan dapat dari empat-empatnya. Yang satu rencana ngasih Rp 250 ribu, sementara tiga lainnya masing-masing akan kasih saya amplop isi Rp 500 ribu, hingga 1juta rupiah. Lihat saja nanti diserangan fajarnya," ungkapnya.

Penulis: Fitrotun Nafisah
Mahasiswi Pendidikan Guru PAUD UNISNU Jepara